DME Digadang jadi Pengganti LPG, Namun Proyek Belum Jalan, Ini Alasan ESDM!
Dimethyl Ether (DME) yang digadang-gadang sebagai solusi substitusi impor Liquefied Petroleum Gas (LPG)--ilustrasi
JAKARTA, RADARKAUR.DISWAY.ID - Proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) yang digadang-gadang sebagai solusi substitusi impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) hingga saat ini belum menunjukkan kemajuan signifikan.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan sejumlah alasan di balik terhambatnya proyek strategis ini.
Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno, Rabu 28 Januari 2026 menjelaskan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor LPG, dengan volume mencapai 7-8 juta ton setiap tahunnya.
Ketergantungan ini, menurut Tri, “menguras cadangan devisa yang lumayan signifikan” bagi negara.
BACA JUGA:Kepatuhan Platform Digital Terhadap Perpres 32/2024 Rendah
Proyek DME diharapkan dapat mengurangi beban impor tersebut.
Namun, Tri Winarno mengakui bahwa proyek ini belum dapat berjalan karena adanya beberapa pertimbangan teknis yang masih harus diselesaikan.
"Memang ada beberapa pertimbangan terkait dengan cadangan, terkait dengan letak lokasi posisi geografisnya. Di mana perusahaan tersebut menginginkan untuk relatif dekat dengan kebutuhan logistik dia,” ujar Tri dalam program Mining Zone CNBC Indonesia.
Saat ini, pemerintah masih terus melakukan diskusi intensif untuk memastikan kesiapan proyek sebelum memasuki tahap konstruksi.
BACA JUGA:TPP PPPK Anjlok ke Rp300 Ribu, Golkar: Ancaman Serius Bagi Pelayanan Publik
BACA JUGA:Bupati Kaur Pimpin Sosialisasi Regulasi Strategis Desa Tahun 2026
Harapannya, ketika nanti dilakukan groundbreaking, proyek tersebut “betul-betul disesuaikan dengan kondisi yang ada.”
Tri Winarno menekankan pentingnya persiapan matang agar groundbreaking yang dilakukan dapat langsung berjalan dan tidak terhenti di tengah jalan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
