Bitcoin Terpukul Kenaikan Tarif Trump 15%, Meski Peluang Rebound Terbuka Lebar!

Bitcoin Terpukul Kenaikan Tarif Trump 15%, Meski Peluang Rebound Terbuka Lebar!

Kenaikan tarif impor Amerika Serikat yang diumumkan Presiden Donald Trump pada 21 Februari lalu langsung mengguncang pasar keuangan global, termasuk aset kripto seperti Bitcoin BTC2.--ilustrasi

KAUR, RADARKAUR.DISWAY.ID – Kenaikan tarif impor Amerika Serikat yang diumumkan Presiden Donald Trump pada 21 Februari lalu langsung mengguncang pasar keuangan global, termasuk aset kripto seperti Bitcoin BTC2.64%->Harga BTC Saat IniRp 1.118.743.4602.64% Market CapRp 22.330 Triliun Volume TradingRp 700,86 Triliun Suplai BeredarRp 19.993.440. Dalam beberapa jam setelah pengumuman tersebut, Bitcoin (BTC) sempat melonjak mendekati $68.000, namun tidak mampu mempertahankan momentum positifnya.

Ethereum ETH2.87%->Harga ETH Saat IniRp 32.417.6642.87% Market Cap- Volume Trading- Suplai Beredar- dan indeks TOTAL3, yang melacak kapitalisasi pasar kripto tanpa Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH), juga mengalami penurunan, menandakan tekanan jual melanda hampir seluruh altcoin. Kondisi ini memperlihatkan betapa sensitifnya pasar kripto terhadap kebijakan ekonomi makro dan sentimen global.

Tarif Impor Naik, Dolar AS Menguat, Kripto Tertekan


Tarif Impor Naik, Dolar AS Menguat, Kripto Tertekan--ilustrasi

Kebijakan Trump menaikkan tarif impor global menjadi 15% secara langsung memicu penguatan Dolar AS dan membuat investor beralih ke aset yang lebih aman. Menurut Wenny Cai, COO SynFutures, pergerakan Bitcoin (BTC) yang turun ke kisaran $65.000 bukan hanya soal sentimen negatif, melainkan juga akibat perubahan posisi investor yang kini lebih memilih instrumen berisiko rendah.

Kenaikan tarif ini sendiri terjadi setelah pengadilan membatasi penggunaan kekuatan darurat oleh Trump, meski ia tetap menggunakan undang-undang perdagangan lain sebagai dasar hukum. Namun, sejumlah pengamat hukum seperti Adam Cochran menilai bahwa aturan tersebut membatasi durasi dan cakupan penerapan tarif, sehingga efek jangka panjangnya masih diperdebatkan.

BACA JUGA:Pemkot Bengkulu Gratiskan 400 Lapak PKL di Pasar Panorama

BACA JUGA:Peringatan Dini BMKG : Potensi Petir di 7 Wilayah Bengkulu

Di sisi lain, pasar saham Amerika Serikat juga mengalami pelemahan, sementara permintaan terhadap instrumen kas dan obligasi jangka pendek meningkat. Hal ini menandakan bahwa pelaku pasar tengah mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve. Indeks Fear and Greed pun turun ke level “extreme fear”, menandakan investor semakin waspada dan cenderung menahan diri dari aksi beli. Situasi ini memperkuat tekanan pada pasar kripto, yang selama ini dikenal sebagai aset berisiko tinggi dan sangat dipengaruhi oleh likuiditas global.

Sentimen Negatif Mendominasi, Namun Data Historis Beri Harapan

Meskipun sentimen pasar saat ini sangat negatif, data historis menunjukkan bahwa tekanan seperti ini tidak selalu berlangsung lama. Ekonom Timothy Peterson mengungkapkan melalui platform X bahwa sejak 2011, ketika setidaknya separuh dari dua tahun terakhir mencatatkan performa positif, Bitcoin (BTC) cenderung naik dalam 10 bulan berikutnya sebanyak 88% dari waktu yang diamati. Rata-rata, kenaikan harga pada periode tersebut bisa mencapai 82%, memberikan harapan bagi investor jangka panjang.

Peterson bahkan memperkirakan bahwa Bitcoin (BTC) berpotensi menembus $122.000 dalam beberapa waktu ke depan jika pola historis ini kembali terulang. Analisis ini memberikan perspektif berbeda di tengah kepanikan pasar, di mana banyak investor memilih keluar sementara waktu. Meski tekanan jangka pendek masih terasa, peluang rebound tetap terbuka lebar jika sentimen global mulai membaik dan likuiditas kembali mengalir ke aset kripto.

Sejarah membuktikan bahwa Bitcoin (BTC) kerap pulih dengan cepat setelah periode volatilitas tinggi, terutama ketika didukung oleh tren positif dalam jangka panjang. Oleh karena itu, investor yang mampu bertahan di tengah badai biasanya akan menikmati hasil yang signifikan di masa mendatang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: