Pengamat Energi Soroti Strategi Subsidi BBM di Tengah Ancaman Pasokan 20 Hari

Pengamat Energi Soroti Strategi Subsidi BBM di Tengah Ancaman Pasokan 20 Hari

Pengamat energi Iwa Garniwa, kondisi tersebut menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk memperkuat kebijakan energi nasional, terutama dalam menghadapi potensi lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik maupun gangguan distribusi global.--ilustrasi

JAKARTA, RADARKAUR.DISWAY.ID - Pemerintah dinilai perlu segera menyiapkan strategi komprehensif untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Hal ini menyusul kekhawatiran terkait ketahanan energi Indonesia yang disebut hanya mampu bertahan sekitar 20 hari apabila terjadi gangguan pasokan global.

Menurut Pengamat energi Iwa Garniwa, kondisi tersebut menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk memperkuat kebijakan energi nasional, terutama dalam menghadapi potensi lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik maupun gangguan distribusi global. Ia menekankan, strategi kebijakan fiskal dan energi harus berjalan beriringan agar masyarakat tidak terbebani kenaikan harga BBM yang tajam.

Salah satu langkah yang dinilai penting menurut Iwa yakni, melakukan revisi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Iwa menyarankan pemerintah untuk menggeser sebagian alokasi program menuju subsidi energi guna mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga BBM di pasar internasional.

“Revisi APBN diperlukan dengan menggeser alokasi program ke subsidi energi untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM,” ujar Iwa.

BACA JUGA:Ini 24 Alamat Barbershop di Kabupaten Kaur Bengkulu, Saatnya Rapikan Rambut jelang Lebaran!

BACA JUGA:FPI Minta Indonesia Keluar dari BoP, Habib Hanif Alatas: Nabi Saja Dikhianati Israel, Apalagi Manusia Biasa!

Dengan langkah tersebut, pemerintah dinilai dapat menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan stabilitas ekonomi domestik. Pasalnya, kenaikan harga energi memiliki efek berantai terhadap berbagai sektor, mulai dari transportasi, logistik, hingga harga kebutuhan pokok.

Selain strategi fiskal, Iwa juga menekankan pentingnya memperkuat kerja sama internasional di sektor energi. Menurutnya, pemerintah perlu mengamankan kontrak jangka panjang untuk pasokan energi, khususnya liquefied natural gas (LNG), dengan negara pemasok utama.

“Kerja sama internasional sangat penting, terutama untuk mengamankan kontrak LNG jangka panjang dengan negara pemasok utama,” katanya.

Langkah tersebut dinilai dapat memberikan kepastian pasokan energi bagi Indonesia, terutama ketika terjadi ketidakstabilan di pasar energi global. Kontrak jangka panjang juga berpotensi memberikan harga yang lebih stabil dibandingkan pembelian di pasar spot yang cenderung fluktuatif.

BACA JUGA:Menaker Tinjau Posko THR dan BHR Keagamaan 2026, Pastikan Hak Pekerja Terlindungi Jelang Lebaran

BACA JUGA:Kabar Gembira! ITB Resmi Buka Program Beasiswa Media ITB 2026 untuk para Jurnalis, Tertarik?

Di sisi lain, Iwa juga menilai bahwa solusi jangka panjang tetap harus bertumpu pada penguatan produksi energi domestik. Menurutnya, Indonesia perlu mempercepat pengembangan sumber energi dalam negeri agar ketergantungan terhadap impor energi dapat ditekan secara bertahap.

“Pengembangan energi domestik harus ditingkatkan untuk mengurangi ketergantungan impor,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: