Pengamat Militer Menilai Perang AS–Israel vs Iran Berbentuk Perang Hibrida dengan Elemen Asimetrik Kuat
Pengamat militer dan intelijen dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Susaningtyas Nefo Handayani Kertapati, menjelaskan bahwa pola konflik yang muncul saat ini memperlihatkan karakter perang modern yang tidak hanya bertumpu pada kekuatan senjata--ilustrasi
JAKARTA, RADARKAUR.DISWAY.ID – Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dinilai tidak hanya berlangsung dalam bentuk konfrontasi militer terbuka. Sejumlah analis menilai dinamika konflik tersebut telah berkembang menjadi perang hibrida dengan elemen asimetrik yang kuat, yakni perpaduan antara operasi militer konvensional, perang informasi, hingga serangan siber.
Pengamat militer dan intelijen dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Susaningtyas Nefo Handayani Kertapati, menjelaskan bahwa pola konflik yang muncul saat ini memperlihatkan karakter perang modern yang tidak hanya bertumpu pada kekuatan senjata.
“Perang ini menggabungkan konfrontasi militer konvensional langsung, penggunaan proksi, perang siber, hingga sabotase. Dalam perang hibrida juga terdapat aktivitas perang kognitif dan informasi yang bertujuan memengaruhi persepsi publik,” kata Susaningtyas dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, 8 Maret 2026.
Menurutnya, perang informasi kini menjadi salah satu medan utama dalam konflik global. Hal ini terlihat dari maraknya arus informasi di media massa maupun media sosial yang berisi narasi propaganda, penggiringan opini, hingga penyebaran kabar bohong terkait situasi perang.
BACA JUGA:Panglima Perintahkan TNI Siaga 1 di Tengah Situasi Global, Isinyanya 7 Poin Penting ini
BACA JUGA:Pastikan Kelayakan Obat dan Makanan, BPOM Kucurkan DAK Rp480 juta untuk Kabupaten Kaur
Ia menilai masyarakat perlu semakin waspada terhadap fenomena Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian (DFK) yang banyak beredar di ruang digital. Istilah ini merujuk pada berbagai bentuk konten negatif yang sengaja disebarkan untuk memecah belah opini publik atau melemahkan legitimasi pihak tertentu dalam konflik.
“Di era post-truth saat ini, narasi sering kali mengalahkan data. Polarisasi opini menjadi semakin tajam, sementara hoaks dan informasi palsu dapat menyebar sangat cepat melalui media sosial,” ujarnya.
Karena itu, Susaningtyas menekankan pentingnya literasi media bagi masyarakat agar tidak mudah terjebak dalam manipulasi informasi yang dapat memengaruhi cara pandang terhadap konflik internasional.
“Satu-satunya cara menghadapi kondisi ini adalah meningkatkan literasi media, melakukan cek fakta, serta membangun kebiasaan berpikir kritis sebelum menyebarkan informasi,” jelasnya.
BACA JUGA:Tiga Kepala Daerah Ini Sepakat Dorong Tol dan Jalur Distribusi Pelabuhan Linau
BACA JUGA:Pengamat Energi Soroti Strategi Subsidi BBM di Tengah Ancaman Pasokan 20 Hari
Lebih jauh ia menilai konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel juga menunjukkan karakter perang asimetrik. Dalam situasi ini, kekuatan militer kedua pihak tidak seimbang sehingga pihak yang relatif lebih lemah cenderung menggunakan strategi nonkonvensional.
“Perang asimetrik terjadi ketika kekuatan militer kedua pihak tidak setara. Dalam kondisi seperti itu, pihak yang lebih lemah akan mencari cara-cara alternatif untuk menghindari kekuatan lawan yang lebih besar,” kata dosen di Sekolah Tinggi Intelijen Negara tersebut.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
