Mutigh Kawe (O): Dari Bengkulu, Membangun Narasi Kopi Islam – Sumatera

Mutigh Kawe (O): Dari Bengkulu, Membangun Narasi Kopi Islam – Sumatera

Tidak diragukan lagi bahwa para pengembara Muslim telah lebih dulu memperkenalkan kopi ke Indonesia--ilustrasi

RADARKAUR.DISWAY.ID - Membaca lima belas kata terakhir dalam kalimat Steven Topik seketika meretakkan dinding pengetahuan saya tentang sejarah kopi di Indonesia. Saya sisir ulang kalimat itu untuk menahan agar konstruksi sejarah yang telah bertahun-tahun berdiri kokoh di kepala saya tidak runtuh begitu saja:
"Belanda adalah kekuatan kolonial Eropa pertama yang meraih kesuksesan besar dalam menanam kopi di wilayah jajahan mereka saat mereka membawanya ke Jawa pada tahun 1690-an," tulis Topik, “meskipun tidak diragukan lagi bahwa para pengembara Muslim telah lebih dulu memperkenalkan kopi ke Indonesia.”

Retakan itu kian menganga ketika saya membaca tiga kata penutup dalam kalimat Steven Topik dan William Gervase Clarence-Smith yang spesifik menunjukan lokasi: "Terutama di Sumatera." 

Tak dapat ditahan, retakan menyebar dan akhirnya dinding itu ambruk. 

Artikel ini ditulis : Dedek Hendry (wartawan senior sekaligus Pencetus Pusat Usaha dan Pendidikan Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu)

Beberapa waktu kemudian, di antara reruntuhannya, bergema kalimat Juan Carlos Herrera dan Charles Lambot seperti mengingatkan: “Sepanjang masa, telah ada banyak kisah mengenai asal-usul dan penemuan kopi.” 

BACA JUGA:Kemen PPPA Pasang Badan: Identitas Korban Pelecehan FHUI Wajib Rahasia, Lindungi dari Stigma!

BACA JUGA:Tempo NasDem Saling Respons, Upaya Redam Polemik Sampul Mulai Ditempuh

Saya pun tergerak untuk membangun ulang dinding pengetahuan tentang sejarah kopi, terutama, di Bengkulu, agar ruang di kepala tidak terus melompong. 

Meminjam istilah yang diungkapkan petani kopi di berbagai desa di Bengkulu, mutigh kawe/kawo, saya melakukannya dengan memanen berbagai catatan yang berkelindan dengan sejarah di luasnya kebun pengetahuan. 

Saya juga telah memilah dan mengolahnya, dan kini sedang menyajikannya untuk mengajak Anda mendiskusikannya sambil menikmati segelas kawe (o), kopi, kahwa (Arab), coffee (Inggris), atau koffie (Belanda). 

Alkisah, Kambing yang Menari

Dari sejumlah kisah yang dikenal luas, tulis Mark Pendergrast, yang paling menarik adalah kisah kambing yang “menari”:  Suatu sore, Kaldi, seorang penggembala kambing di Etiopia, merasa bingung karena kambing-kambingnya tak kunjung datang meski ia telah berulang kali meniupkan nada melengking dari serulingnya—tanda khusus untuk mengajak mereka pulang. 

Kaldi pun mencari mereka dan terperanjat menemukan hewan-hewan gembalaannya sedang berlarian, saling menyeruduk, menari dengan kaki belakang, dan mengembik penuh semangat di tengah hutan. Ia juga melihat mereka tengah mengunyah daun hijau mengilap dan buah merah kecil dari pohon yang asing baginya. 

Keesokan harinya, hewan-hewan itu mendatangi pohon yang sama untuk kembali “berpesta”. Kali ini, Kaldi memutuskan untuk mencoba. Ia mengunyah beberapa helai daun yang terasa pahit. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: