Board of Peace dan Logika Gus Baha’

Minggu 01-02-2026,07:35 WIB
Reporter : Muhammad Isnaini
Editor : Muhammad Isnaini

Setelah orang itu pergi, Aisyah bertanya: "Wahai Rasulullah, ketika engkau melihat orang itu tadi engkau berkata begini dan begitu, namun kemudian engkau bermuka manis dan ramah kepadanya?"

Rasulullah SAW bersabda: "Wahai Aisyah, kapan engkau melihatku berkata kasar? Sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan (dijauhi) oleh manusia karena takut akan keburukan (ucapan/perbuatannya)."

Dalam kajian Gus Baha’, peristiwa itu dimaknai sebagai kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial Rasulullah. Yaitu: Diplomasi "Menjaga Gengsi" Suku. Gus Baha’ juga menjelaskan perbedaan Mudarah (Basa-basi Strategis) dan Nifaq (munafik).

Sikap Nabi ini disebut Mudarah. Mengorbankan sedikit "ego duniawi" (bersikap manis): Demi kemaslahatan agama atau keselamatan diri/umat.

Tujuannya: Untuk meredam potensi kejahatan orang tersebut (daf'ul mafasid). Jika Nabi kasar kepada Uyainah. Yang merupakan ketua suku yang keras. Uyainah bisa marah. Lalu memprovokasi sukunya untuk memusuhi Nabi. 

Tetapi Nabi memberikan penilaian objektif (fakta) kepada Aisyah tentang karakter Unaiyah dengan mengatakan "Dia adalah seburuk-buruk saudara di dalam kabilahnya". Untuk apa? Agar Aisyah waspada. Dan ini bukan sedang menggunjing (ghibah) tanpa tujuan.

Sehingga menurut Gus Baha’: Menghadapi orang "Toxic" tidak harus dengan konfrontasi. Gus Baha’ mengajarkan bahwa kita tidak harus selalu "jujur-jujuran" frontal di depan orang yang memiliki tabiat buruk. Apalagi jika orang itu punya kuasa atau “setengah gila”. 

Melawan orang kasar dengan kekasaran hanya akan menimbulkan kerusakan lebih besar. "Mengalah" dengan bersikap sopan kepada mereka adalah strategi untuk "menyetop" kejahatan mereka agar tidak melebar.

Tetapi Gus Baha’ mengingatkan. Hadits tersebut adalah kasus khusus. Jangan dijadikan dalil untuk boleh bermuka dua dalam konteks Munafik. Lain di hati lain di mulut dalam hal keimanan. Nabi tidak memuji Uyainah sebagai "Orang Saleh" atau "Wali Allah". Nabi hanya bersikap sopan dan halus.

Sekali lagi: Tidak dengan bobot dan kadar yang sama. Tetapi kita bisa mengaitkan konsep Mudarah dari Gus Baha’ dengan dinamika geopolitik dunia saat ini. Terkait langkah Presiden Prabowo yang bergabung dalam BoP bentukan Trump.

Yaitu Diplomasi sebagai "Mudarah" (Bukan Menyerah). Langkah Prabowo bergabung dengan inisiatif Trump boleh dikritik sebagai sikap "tunduk" atau mengkhianati politik bebas-aktif. Tetapi juga boleh dilihat dalam kacamata Mudarah. 

Objeknya: Donald Trump sering dipersepsikan sebagai pemimpin yang transaksional dan "keras" (mirip karakter Uyainah yang Al-Ahmaq al-Mutha' atau pemimpin yang tabiatnya sulit ditebak, namun punya kuasa besar).

Strateginya: Bersikap ramah dan masuk ke dalam lingkaran. Bukan berarti setuju dengan seluruh kebijakan personal Trump. Melainkan untuk "meredam potensi bahaya" atau ketidakpastian ekonomi-politik yang bisa merugikan Indonesia: Jika kita berada di luar radar mereka.

Tujuannya: Menjaga kepentingan nasional (keamanan dan ekonomi) agar tetap stabil di tengah ketegangan global. Dan yang terpenting: Sebagai tahap awal: Pastikan gencatan senjata di Gaza. 

Sehingga kita tidak terus membaca berita anak-anak di Gaza tertembus peluru tajam tentara Israel. Sementara kita juga tidak bisa mencegah itu. 

Dan satu lagi: Kita tidak pernah tahu nasib Trump nanti. Seperti juga kita tidak tahu apakah BoP akan memancing satu sikap negara besar dan sebagian Big Member NATO yang tidak bergabung. 

Kategori :