BAIK ATAU BURUK, Hati-Hati Menghakimi Orang!

Senin 02-03-2026,05:50 WIB
Reporter : Muhammad Isnaini
Editor : Muhammad Isnaini

RADARKAUR.DISWAY.ID - Kisah berikut ini mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati dalam menghakimi orang lain. Waktu itu, Nabi Muhammad SAW sudah berhijrah dari Makkah ke Madinah, yang dahulunya bernama Yastrib. Akan tetapi, kaum musyrikin Quraisy masih saja terus merongrong ketenteraman Muslimin.

Apalagi sesudah kekalahan orang-orang kafir dalam Perang Badar pada tahun kedua hijriyah. Mereka menaruh dendam kesumat pada Rasulullah SAW dan para sahabat. Kira-kira satu tahun kemudian, kesempatan untuk melampiaskan kebencian itu akhirnya tiba.

Perang Uhud menjadi salah satu bukti nyata provokasi orang-orang musyrik yang tidak pernah ridha akan syiar Islam. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Muslimin berjumlah sekitar 700 orang. Rasulullah SAW memimpin langsung mereka, baik selama penyusunan strategi maupun di medan jihad. Sementara itu, kaum musyrikin yang berangkat dari Makkah berjumlah lebih banyak. Tidak kurang dari 3.000 orang.

“Kalah” jumlah tak berarti surutnya semangat jihad Muslimin. Bahkan, tekad para sahabat Nabi SAW semakin kuat untuk melawan musuh-musuh Allah. Mati syahid pun menjadi sebuah kerinduan. Melindungi Rasulullah SAW menjadi sebuah dorongan hati yang teramat kuat.

BACA JUGA:Resmi! Harga BBM Hari Ini 1 Maret 2026, Naik di Semua Provinsi!

BACA JUGA:Belajar Dari Konflik Timur Tengah, JK Minta Pemerintah Jaga Stabilitas Lewat Kebijakan Adil

Di antara penduduk Madinah yang berangkat ke medan pertempuran ialah seorang lelaki bernama Qotzman. Ia ikut dalam kubu Muslimin.

Tentara Quraisy berkemah di selatan Bukit Uhud. Abu Sufyan mengelompokkan mereka menjadi infantri di bagian tengah dan dua sayap kavaleri di samping. Sayap kanan dipimpin Khalid bin Walid (waktu itu belum memeluk Islam).

Adapun sayap kiri dikomandoi Ikrimah bin Abu Jahal (baru masuk Islam ketika Pembebasan Makkah). Tiap kelompok itu terdiri atas 100 orang pasukan. Abu Sufyan juga menempatkan 100 pemanah di barisan terdepan. Bendera dan panji-panji kebesaran Quraisy dibawa Talha bin Abu Talha.

Hari yang dinanti pun tiba. Sejak semula, pertempuran berlangsung sengit. Namun, atas izin Allah SWT, pasukan Muslimin mulai dapat menguasai keadaan. Bahkan, kemenangan sudah terasa jelas berada di pelupuk mata.

BACA JUGA:Tak Ingin Berjuang Sendiri, Satpol PP Minta Seluruh Kades dan Warga se-Kabupaten Kaur Tangkap Ternak Liar

BACA JUGA:Terbukti Pasif, Kades dan Camat se-Kabupaten Kaur Disinyalir Tak Dukung Penegakan Perda Hewan Ternak

Balatentara musuh pontang-panting berlarian dari medan perang. Para sahabat Nabi SAW pun berucap syukur. Sebagian Mukminin mengumpulkan harta benda yang ditinggalkan para musuh Allah di atas tanah.

Rasulullah SAW sudah menugaskan sekelompok pasukan agar tetap berjaga-jaga di atas bukit walaupun Muslimin yang bertempur di lembah tampak sudah bisa mengusir musuh. Namun, mereka justru melalaikan tugasnya. Alhasil, kelompok yang dipimpin Khalid bin Walid berhasil menyerang balik Muslimin dari atas bukit.

Barisan sempat porak poranda. Bahkan, Nabi SAW mengalami luka-luka pada wajah beliau. Tak sedikit sahabat yang gugur.

Kategori :