JAKARTA, RADARKAUR.DISWAY.ID - Gangguan irama jantung atau aritmia sering dianggap sepele oleh masyarakat. Padahal, kondisi ini dapat memicu komplikasi serius seperti stroke, gagal jantung, hingga kematian jantung mendadak.
Para dokter jantung kembali mengingatkan pentingnya deteksi dini agar kondisi ini dapat ditangani sejak awal.
Data global menunjukkan Atrial Fibrilasi (AF) merupakan jenis aritmia paling umum di dunia, dengan sekitar 59–60 juta kasus pada 2019 dan jumlahnya diperkirakan terus meningkat. Aritmia yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat, gagal jantung hingga lima kali, serangan jantung dua kali, serta kematian jantung mendadak hingga 2,5 kali.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dan Kepala Staf Medis Fungsional Bidang Kardiologi Siloam Hospitals TB Simatupang serta ahli aritmia di Indonesia, Yoga Yuniadi, mengatakan bahwa banyak kasus stroke sebenarnya berkaitan dengan gangguan irama jantung yang tidak terdeteksi sebelumnya.
BACA JUGA:22 Ternak Liar Tangkapan Satpol PP Segera Lelang, Ini Jadwal, Syarat dan Ketentuannya!
BACA JUGA:Bupati Kaur - BRI Launching Transaksi Non Tunai Pengelolaan Keuangan Desa 2026
“Secara global, hingga 40 persen pasien stroke iskemik berhubungan dengan atrial fibrilasi. Bahkan pada pasien muda, stroke sering kali berkaitan dengan AF yang tidak disadari sebelumnya,” ujar Yoga, di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.
Yoga menambahkan, penelitian yang dilakukan di 25 pusat layanan di Indonesia menunjukkan bahwa pasien AF di Tanah Air cenderung lebih muda dibandingkan negara maju. Sayangnya, upaya pencegahan stroke pada kelompok ini masih relatif rendah.
Disamping itu salah satu terapi yang terbukti efektif adalah ablasi kateter, yaitu prosedur medis yang bertujuan mengembalikan irama jantung menjadi normal. “Ablasi yang dilakukan sejak dini, terutama kurang dari satu tahun sejak diagnosis, tidak hanya memperbaiki kualitas hidup pasien tetapi juga dapat menurunkan risiko stroke dan memperpanjang harapan hidup,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), Erika Maharani, menilai peningkatan kasus aritmia harus direspons dengan penguatan layanan kesehatan yang lebih merata.
“Jumlah pasien aritmia terus meningkat, sementara akses terhadap layanan seperti ablasi jantung dan perangkat implan masih terbatas di beberapa wilayah,” kata Erika.
Terakhir, InaHRS tengah menyusun cetak biru pengembangan layanan aritmia nasional yang menekankan deteksi dini, penguatan data nasional, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses layanan bagi masyarakat.