JAKARTA, RADARKAUR.DISWAY.ID - Sebanyak 72 siswa di Pondok Kelapa, Duren Sawit Jakarta Timur dilaporkan mengalami keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kondisi ini membuat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meradang dan memandang pihak Badan Gizi Nasional (BGN) terlalu meremehkan persoalan keracunan akibat menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak Higienis.
Terlebih peristiwa keracunan makanan dari menu MBG sudah berulang kali terjadi diberbagai daerah. Dan terbaru menimpa siswa di salah satu sekolah di Pondok Kelapa Duren Sawit Jakarta Timur.
Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso menegaskan bahwa kasus keracunan satu orang saja, BGN (Badan Gizi Nasional) tidak boleh menganggap remeh, terutama dalam hal kebersihan.
Dokter spesialis jantung anak tersebut menyoroti pentingnya checklist standar yang disusun oleh para pakar agar kejadian serupa tidak terulang. Bahkan, ia sempat melontarkan pernyataan keras terkait higienitas pengolahan makanan.
"Keamanan pangan itu hal yang sangat mendasar. Harus ada standar baku yang dipenuhi, mulai dari cara mencuci bahan, suhu penyimpanan, hingga jarak waktu antara makanan matang sampai disajikan ke meja siswa. Tidak boleh terlalu lama," ujar dr. Piprim saat ditemui di Menteng, Senin 6 April 2026.
"Tata cara mencuci, pengadaannya, bahkan jangan sampai ada bahan makanan yang diinjak-injak pakai kaki. Audit itu harus dilakukan dengan ketat (strict) karena ini menyangkut nyawa manusia," tambahnya.
Senada dengan dr. Piprim, Ketua Unit Kerja Koordinasi Kardiologi IDAI, dr. Rizky Ardiansyah menegaskan bahwa IDAI sama sekali tidak menolak program MBG, namun menuntut adanya perbaikan tata kelola yang menyeluruh dari hulu ke hilir.
"Kami tidak ingin program ini bubar. Kami mendukung penuh MBG, tapi tolong benahi sistemnya agar angka keracunan bisa ditekan sampai nol (zero case). Satu anak saja yang sakit, itu sudah harus langsung diaudit, jangan menunggu sampai puluhan orang jadi korban," tegas dr. Rizky.
"Kita berharap program ini betul-betul pro rakyat dan tepat sasaran. Apalagi kita punya target besar menurunkan angka stunting dari 19,8 persen menuju 12 persen. Jangan sampai niat baik ini justru terganjal masalah distribusi dan teknis keamanan pangan yang berantakan," pungkas dr. Rizky.