Sekda Kaur Jajaki Potensi Budidaya Lobster dengan Dirjen Perikanan Budidaya

Senin 13-04-2026,06:43 WIB
Reporter : Muhammad Isnaini
Editor : Muhammad Isnaini

KAUR, RADARKAUR.DISWAY.ID - Sekretaris Daerah Kabupaten Kaur, Dr. Nasrur Rahman, S.Hut, M.Si melakukan kunjungan kerja ke Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, dalam rangka membahas pengembangan budidaya pembesaran lobster sebagai komoditas unggulan daerah di Kabupaten Kaur.

Kunjungan Sekda Kaur Dr. Nasrur Rahman, S.Hut,M.Si diterima langsung oleh Tb. Haeru Rahayu, A.Pi,M.Sc selaku Direktur Jenderal Perikanan Budidaya. 

Pada kesempatan itu, Sekda Kaur Dr. Nasrur Rahman,S.Hut, M.Si menyampaikan, potensi lobster di Kabupaten Kaur yang dinilai sangat besar, baik dari sisi benih bening lobster (BBL) maupun lobster ukuran konsumsi dengan didukung potensi laut yang memiliki sumberdaya yang menjanjikan. Sumberdaya BBL , kuota penangkapan BBL di Kaur mencapai 11,89 juta ekor per tahun. 

"Potensi lobster di Kabupaten Kaur sangat besar dan menjanjikan. Dengan dukungan regulasi serta pengelolaan yang baik, sektor ini dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat pesisir," ujar Nasrur Rahman.

BACA JUGA:Anggota DPR RI Sebut MBG Sarat Korupsi

BACA JUGA:Peningkatan BBN dalam Bahan Bakar Langkah Strategis, Kurangi Ketergantungan Impor Bahan Baku Fosil

Dikatakan Sekda, kami melihat budidaya lobster laut sebagai salah satu peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Kaur. Dengan dukungan dari pemerintah pusat, kami optimis potensi ini bisa dikembangkan secara maksimal.

Selain itu, Sekda juga menekankan pentingnya pendampingan teknis dan pelatihan bagi para pembudidaya lokal agar mampu menerapkan praktik budidaya yang baik dan ramah lingkungan. Hal ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus meningkatkan kualitas hasil produksi.

Lebih lanjut, di Kabupaten Kaur terdapat sekitar 700 nelayan yang telah mengantongi izin penangkapan BBL, sehingga aktivitas penangkapan menjadi lebih tertib dan terkontrol. Adapun wilayah pesisir seperti Pasar Lama dan Sekunyit Kecamatan Kaur Selatan, Linau di Kecamatan Maje hingga Merpas Kecamatan Nasal menjadi titik strategis penangkapan benur jenis mutiara dan pasir. 

"Potensi BBL yang dapat dibudidayakan berjenis Mutiara dan Pasir sesuai dengan kebutuhan ekspor, dan dapat meningkatkan penghasilan masyarakat nelayan," terang Sekda.

BACA JUGA:Menteri PU Hormati Proses Hukum di Kejati DKI, Siap Kooperatif

BACA JUGA:Rehab SDN 8 Kaur Dianggarkan 2025, tapi Gagal Dilaksanakan, Kemampuan Manajerial Kadisdikbud Dipertanyakan

Ditambahkan Sekda, nilai ekonomi jenis mutiara dan pasir ini juga cukup tinggi, di mana penjualan BBL oleh Kelompok Usaha Bersama (KUB) dan Koperasi nelayan dapat mencapai 30.000 hingga 50.000 ekor dalam sekali transaksi. 

"Tentu Ini menjadi peluang besar bagi daerah. Karena itu, kami mendorong tidak hanya penangkapan, tetapi juga pengembangan budidaya pembesaran lobster agar nilai tambahnya bisa dinikmati masyarakat," ungkap sekda.

Dari sisi penguatan budidaya, pentingnya penguatan berbasis masyarakat melalui kelompok nelayan, baik Koperasi nelayan dan KUB, termasuk dukungan teknologi budidaya, ketersediaan pakan, serta akses pasar yang lebih luas.  

Kategori :