Evaluasi kelanjutan OMC dilakukan setiap 10 hari sekali guna menyesuaikan dengan kondisi potensi awan hujan yang ada di atmosfer.
Jika dalam kurun waktu tersebut analisis BMKG menunjukkan potensi hujan masih tinggi, maka operasi akan diperpanjang.
Namun, jika potensi awan tidak terlihat, penerbangan akan dihentikan sementara untuk mengefisienkan alokasi penggunaan jam terbang serta material garam.
"Di bulan ini saja, di mana kita terjadi puncaknya El Nino, kita sudah menerbangkan hampir 36 sorti atau 36 ton garam," ungkap Kolonel Andri.
Berdasarkan kalkulasi teknis BMKG, efektivitas OMC terbilang sangat tinggi karena satu kali hujan yang terpicu dapat menurunkan sekitar 170 juta meter kubik air. Volume air hujan tersebut jauh lebih besar jika dibandingkan dengan pemadaman lewat water bombing yang hanya mampu membawa sekitar 200 ribu liter air per sorti.
"Kita berkoordinasi dengan BMKG yang selalu senantiasa 24 jam memantau kondisi cuaca di Provinsi Riau. Sehingga kita mendapatkan info di mana ada awan-awan konvektif berpotensi menjadi awan hujan, itu kita berangkatkan pesawat," katanya.
Penaburan 4 ton garam beberapa hari lalu bahkan terbukti langsung memadamkan sejumlah titik api secara merata di Siak dan Pelalawan.
Kendati demikian, pelaksanaan OMC tetap memiliki tantangan teknis karena sangat bergantung pada keberadaan awan konvektif serta perhitungan arah dan kecepatan angin.
Penyemaian tidak bisa dilakukan secara sembarangan agar presipitasi hujan bisa jatuh tepat di lokasi target lahan rawan karhutla dan tidak terbuang di wilayah perairan.
Melalui kombinasi data cuaca yang akurat dan penyemaian yang tepat sasaran, status darurat karhutla di Riau diharapkan dapat terus terkendali.
"Kita berharap darurat di Provinsi Riau ini benar-benar bisa kita kendalikan. Hujan kita harapkan bisa merata di seluruh Provinsi Riau, khususnya di lahan-lahan yang sangat rawan terjadinya karhutla," tutup Andri.