Puting Jantan

Puting Jantan

SETELAH dua tahun akrab, baru kemarin dulu saya bertemu orangnya: drh Indro Cahyono. Ia muncul di rumah saya. Habis Magrib. Bersama istrinya. Saya juga baru tiba dari Samarinda. Istri ditinggal di sana.

Yang bersama Harian Disway mengadakan acara ini: Lokakarya dan Simulasi Penyembuhan Sapi. Yakni sapi yang terkena penyakit mulut dan kuku (PMK).

Ia datang ke Surabaya naik kereta. Mengundang drh Indro ternyata tidak harus menyediakan tiket pesawat. Hanya ada syarat khusus: harus juga mengundang istrinya.

Meski sudah punya anak tiga orang, pasangan ini masih seperti pacaran. Mereka satu angkatan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Satu kelas. Indro orang Semarang, sang istri priyantun Ngayogyokarto.

BACA JUGA:Tertangkap Tangan Maling TBS Sawit, Anggota BPD Terancam Denda Rp 40 Juta dan Dipecat

BACA JUGA:Peringatan HUT Kemerdekaan RI Libatkan Semua Unsur

Pagi-pagi kemarin kami ke Lamongan. Acara itu dilakukan di pendapa kabupaten. Bupati Dr Yuhronul Efendi MBA hadir. Kepalanya gundul –pertanda baru pulang dari naik haji. Saya menjadi moderatornya.

Anda sudah tahu apa yang dipaparkan drh Indro di situ. Sudah hafal. Sudah lima kali saya menuliskannya di Disway. Tapi peserta masih sangat antusias. Pak bupati ikut dialog sampai selesai. Lamongan adalah kabupaten pertama yang mengakui secara terbuka: bahwa virus PMK sudah masuk Indonesia.

Dari acara tersebut terlihat ternyata masih begitu banyak yang salah praktik. Banyak peternak yang menyembuhkan PMK dengan berbagai macam antiseptik. Yang sama sekali salah. Pengalaman selama Covid rupanya membentuk pola berpikir antiseptik segala-galanya. Padahal yang diperlukan untuk PMK ini cairan ber-pH rendah.

Hebatnya, bahkan ada yang menangani PMK pakai formalin. "Mungkin saja virusnya bisa mati. Tapi bakteri tetap menyerang," ujar Indro berkomentar.

Seorang ketua koperasi mengaku: dari 200 sapi milik anggotanya hanya 8 yang mati. Itu bagus. Tapi ternyata yang 58 lagi harus dipotong dini. "Kukunya sudah lepas. Tidak bisa berdiri. Tidak mungkin bisa lebih gemuk lagi. Dipotong saja," ujarnya.

Itu, kata Indro, akibat salah penanganan. Luka kaki akibat virus diperburuk oleh bakteri. Akhirnya membusuk. Kukunya lepas. Padahal virusnya sudah negatif. Letak kaki sapi yang di bawah membuat mudah dihinggapi segala macam bakteri yang ada di kandang. Buktinya luka yang di mulut tidak membuat mulut busuk dan gigi lepas.

Indro menyayangkan terjadinya panik-jual sapi. Itu sangat merugikan peternak. "Sapi seharga Rp 25 juta dijual di bawah Rp 5 juta," ujarnya.

Sekretaris Dinas Peternakan Jatim Aftabuddin  juga mengungkapkan itu. Anak Medan lulusan Fakultas Peternakan Universitas Syiah Kuala Aceh itu jadi orang Jatim sejak muda. Sejak menjadi atlet olahraga anggar Jatim ketika provinsi itu jadi tuan rumah PON.

BACA JUGA:Pamit ke Warung, Warga di Kaur Menghilang

BACA JUGA:Hujan Sehari, Warga Was-Was, Lahan Pertanian dan Permukiman Terancam

Yang paling disayangkan, penjualan itu biasanya dilakukan pada hari ke-6 setelah sapinya terkena PMK. Yakni ketika sapi itu sudah tidak bisa berdiri dan tidak bisa makan. "Padahal tunggu dua hari lagi sapinya sembuh," ujar Indro. Tentu kalau sapi itu tetap diberi makan.

Itulah sebabnya Indro menciptakan bubur sapi. Juga menciptakan salep untuk kaki. Agar sapi tetap dapat asupan vitamin dan gizi. Juga agar luka di kaki bisa sembuh –kuku pun tidak copot. Salep itu juga bisa untuk mulut. Tanpa membahayakan sapinya.

Ada keluhan: cara memaksa sapi tetap makan itu ternyata membuat sapinya kembung. Lalu mati. Indro langsung menjawab: itu karena makanannya tidak dilembutkan. Sistem pencernaan sapi tidak sama dengan manusia. Perut manusia bisa mencerna makanan apa saja. Asam di lambung perut manusia cukup kuat untuk mencerna yang aneh-aneh. Bahkan bisa ''mencerna'' aspal dan Jiwasraya.

Asam di lambung perut sapi tidak cukup kuat. Itulah sebabnya sapi disebut binatang memamah biak. Makanan kasar yang masuk perut selalu harus dikembalikan lagi ke mulut. Dikunyah-kunyah lagi. Agar tidak kembung.

"Kembung bisa membunuh sapi lebih cepat dari virus PMK," ujar Indro. "Satu hari kembung sapi bisa mati," tambahnya. Kalau sudah kembung seperti itu tidak ada jalan lain. Perut sapi harus ditusuk secara benar. Agar anginnya keluar.

Indro menegaskan lagi: virus PMK tidak membunuh sapi dewasa. Yang mati karena virus umumnya sapi yang berumur kurang 1 bulan. Itu karena belum mampu menumbuhkan sistem kekebalan. Sapi dewasa yang terkena PMK umumnya mati karena tidak bisa makan, kembung dan dipotong lehernya –tidak perlu didor lima kali.

Ada juga keluhan unik: setelah seminggu diberi makan bubur dan sembuh, sapinya tidak mau lagi makan rumput. Indro menyarankan: pada hari kelima buburnya harus mulai dicampuri rumput. Yakni rumput yang sudah dicacah lembut. Hari keenam campuran rumputnya ditambah.

"Manusia pun begitu," katanya. "Dulunya makan tempe. Lalu mampu makan daging rendang tiap hari. Setelah itu tidak mau lagi makan tempe," guraunya.

Selesai acara dialog, peserta diajak ke halaman pendapa. Di situ seekor sapi besar disiapkan. Indro menyimulasikan cara memberikan salep di kaki dan mulut sapi. Juga dipraktikkan cara mencuci kuku sapi. Yakni dengan cairan yang pH-nya rendah: pH 5. Tidak hanya virus, bakteri pun mati. Itu harus dilakukan sehari tiga kali.

Virus PMK itu tidak menyerang paru-paru sapi. Yang diserang adalah jantung. Tapi jantung tidak perlu dibersihkan. Maka hanya tiga bagian yang perlu dibersihkan dan disalep: kaki, mulut, dan puting susunya.

Peserta pun minta agar Indro memeragakan pencucian puting susu sapi itu. Ia menuju lokasi yang biasanya ada susu di situ. Indro pun tertawa ngakak. "Sapi ini jantan. Mana ada putingnya," katanya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: