Sawit Itu Pohon: Saatnya Mengakhiri Perdebatan yang Tidak Perlu
Sawit Itu Pohon: Saatnya Mengakhiri Perdebatan yang Tidak Perlu --ilustrasi
Sebaliknya, tanaman palma yang sering dituduh bukan kayu ternyata dapat memberikan fungsi ekologis yang signifikan jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan.
Ekologi modern tidak menilai vegetasi hanya dari identitas biologisnya, tetapi dari fungsi yang dihasilkan dalam suatu sistem lanskap, seperti kemampuan menyerap karbon dan menghasilkan biomassa, menjaga hidrologi, mendukung biodiversitas, serta menopang stabilitas tanah (Chapin et al., 2011; Hooper et al., 2005).
Dalam hal ini, kelapa sawit juga terbukti memiliki fungsi ekologis yang tidak kalah dibandingkan vegetasi berkambium. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sawit memiliki produktivitas biomassa yang sangat tinggi melalui efisiensi fotosintesis tropis, sekaligus berkontribusi terhadap penyerapan karbon, pengaturan siklus hidrologi, serta stabilitas tanah melalui sistem perakaran dan penutupan tajuk yang kontinu. Kajian ekofisiologi bahkan menunjukkan bahwa karakteristik fisiologis sawit memungkinkan terbentuknya fungsi hidrologis lanskap yang stabil pada ekosistem tropis yang dikelola dengan baik (Henson, 1999; Corley & Tinker, 2016).
Bahasa harus mengikuti realitas, bukan takut pada realitas
KBBI pada dasarnya berfungsi mencatat realitas bahasa yang hidup dalam masyarakat. Dalam penggunaan sehari-hari, masyarakat Indonesia telah lama menyebut sawit sebagai pohon. Dalam konteks linguistik, pengakuan tersebut justru mencerminkan konsistensi antara bahasa dan realitas sosial.
Mengharapkan KBBI mengikuti definisi teknis dendrologi yang sangat sempit justru berpotensi menciptakan jarak antara bahasa dan pengetahuan praktis masyarakat.
Bahasa yang sehat adalah bahasa yang mampu menjembatani pengetahuan ilmiah dengan pemahaman publik, bukan memelihara perdebatan terminologi yang tidak produktif (Habermas, 1984; Wynne, 1992; Moeliono, 2003; Kridalaksana, 2008)..
Kesimpulan: saatnya berpindah dari labelisasi ke konteks pengelolaan
Perubahan definisi sawit dalam KBBI seharusnya tidak dilihat sebagai kontroversi, melainkan sebagai pengingat bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang dan bahasa harus mampu menyesuaikan diri.
Perdebatan yang lebih relevan bukan lagi apakah sawit pohon atau bukan, tetapi lebih kepada, apakah kita mampu mengelola sawit secara bijak dan berkelanjutan? Karena pada akhirnya, ekologi tidak pernah menilai tanaman berdasarkan klasifikasi kamus, melainkan berdasarkan dampak nyata yang dihasilkan di lapangan. Baik sawit ataupun bukan jika tidak dikelola dengan benar sama-sama dapat menghasilkan bencana ekologis.
Dan dalam konteks itulah, kegaduhan mengenai status sawit sebagai pohon mungkin menjadi perdebatan yang terlalu kecil dibanding tantangan besar pengelolaan lanskap tropis yang berkelanjutan.
*)Peneliti Kebijakan Kelapa Sawit Nasional
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
