Catatan Diskusi Kaleidoskop Media Massa 2025 - Negara, Media Massa dan Ancaman Kualitas Manusia
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menggelar diskusi. Kaleidoskop Media Massa 2025. Acara disiarkan live streaming di kanal podcast AFU (Akbar Faisal Uncensored). Banyak pembicara dihadirkan. Ada 9 narasumber, plus host Akbar Faisal--ilustrasi
RADARKAUR.DISWAY.ID - Menutup akhir tahun, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menggelar diskusi. Kaleidoskop Media Massa 2025. Acara disiarkan live streaming di kanal podcast AFU (Akbar Faisal Uncensored). Banyak pembicara dihadirkan. Ada 9 narasumber, plus host Akbar Faisal.
Banyak pikiran menarik dalam diskusi itu. Mulai dari pertanyaan apakah media massa masih perlu ada? Hingga kenyataan pahit, susahnya media massa hidup “layak”. Sehingga tidak melepas wartawannya seperti ayam kampung, yang dibiarkan cari makan sendiri di lapangan.
Situasi krusial dan dilematik itu ditangkap dan ditanggapi dengan jujur oleh Ketua PWI Pusat, Akhmad Munir. Dia melontarkan gagasan agar negara hadir. Ditegaskan Munir, negara: bukan pemerintah. Meskipun bagi penulis, negara –terutama di Indonesia-- sering direpresentasi oleh pemerintah.
Munir memberi ilustrasi. Insentif tax holiday bagi perusahaan media misalnya. Atau insentif tarif listrik bagi industri media. Bahkan sampai tunjangan bagi wartawan pemegang kartu uji kompetensi.
BACA JUGA:Gedung Sekolah Rakyat di Kaur Dibangun 2026, Anggaran Rp253 Miliar
Gagasan ini tentu akan memicu banyak tanggapan. Tetapi harus diakui. Gagasan ini sebenarnya suara alam bawah sadar insan media. Seperti pernah terjadi saat Pandemi Covid-19. Media massa mendapat “asupan” yang sumbernya dari dana PEN-Covid.
Tetapi saat ini tidak ada Pandemi. Ruang fiskal negara yang sempit juga diperebutkan oleh prioritas-prioritas. Meskipun belanja Kementerian/Lembaga masih banyak yang menggunakan template lama. Yang boros dan buruk.
Penulis ingin memberi justifikasi gagasan Ketua PWI itu. Agar bisa jalan dengan dua sisi: Media memberi kontribusi penting sesuai perannya. Sehingga negara menganggap pantas untuk hadir dalam wujud seperti yang dilontarkan Munir.
Sebenarnya saat ini ada Pandemi yang lebih berbahaya dari Covid-19. Juga mengancam manusia. Tidak secara langsung mengancam nyawa. Tetapi mengancam kualitas manusia. Dengan faktor akibat yang lebih berbahaya dari Covid-19. Dan yang bisa mengobati adalah media massa.
BACA JUGA:Resmi, Nasrur Rahman Sekda Kaur, Bupati Kaur Lantik 39 Pejabat, Simak Selengkapnya Disini!
Global Anxiety
Fenomena Global Anxiety (kecemasan global) saat ini telah menjadi era. Banyak ahli menyebut era ini sebagai "The Age of Anxiety". Karena tumpukan krisis terjadi secara bersamaan di seluruh dunia. Atau disebut “Polycrisis” (krisis yang saling bertautan satu sama lain).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
