Kisah Tragis Anak Semata Wayang RA Kartini, Dituduh Terlibat PKI dan Dibebaskan Soekarno

Kisah Tragis Anak Semata Wayang RA Kartini, Dituduh Terlibat PKI dan Dibebaskan Soekarno

Soesalit Djojoadhiningrat, anak tunggal RA Kartini --ilustrasi

KAUR, RADARKAUR.DISWAY.ID - Kisah-kisah RA Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita kerap kali disuarakan. Akan tetapi ada satu bagian dari hidupnya yang bak terlupakan sejarah.

Hal itu adalah kisah Soesalit Djojoadhiningrat, anak tunggal RA Kartini yang jarang bahkan tak banyak orang tahu kisah hidupnya. Soesalit, begitu ia disapa miliki perjalanan hidup yang getir.

Pasalnya soesalut menjadi piatu empat hari pasca dilahirkan, lantaran RA Kartini wafat. Di usianya kedelapan tahun, ayahnya RM Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat wafat dan membuatnya menjadi yatim piatu.

Soesalit diasuh oleh neneknya, Ngasirah dan kakak tirinya yang tertua, Abdulkarnen Djojoadhiningrat. Abdulkarnen sangat menyayangi adiknya dan membiayai sekolahnya.

BACA JUGA:Benarkah Setiap Manusia Memiliki Qorin, Diriwayatkan dalam Shahih Muslim Cara Menundukannya!

BACA JUGA:Gubernur Bengkulu Alokasikan 36 Miliar, Jalan Tj Iman-Muara Sahung dan Tj Kemuning-Lk Kule Diperbaiki!

Layaknya RA Kartini, Soesalit mengenyam pendidikan di Europe Lagere School (ELS), sekolah elite yang diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan kaum bangsawan pribumi. Pada 1919, ia lulus dari ELS dan melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) di Semarang, kemudian masuk Rechtshoogeschool (RHS) di Batavia—sekolah tinggi hukum bergengsi pada masa kolonial.

Akan tetapi Soesalit hanya sekolah hukum selama satu tahun. Kemudian ia memilih bekerja sebagai pegawai pamong praja kolonial.

Abdulkarnen menawarinya posisi di Politieke Inlichtingen Dienst (PID), yakni polisi rahasia Hindia Belanda. Tugasnya adalah menjadi mata-mata kaum pergerakan nasional dan mengantisipasi spionase asing, seperti dari Jepang.

Lantaran pekerjaan sebagai pamong praja Belanda kala itu, membuat Soesalit dilanda dilema. Akan tetapi ia juga tersadar bahwa pekerjaannya justru membuatnya mengkhianati bangsa.

Situasi berubah saat Jepang menguasai Indonesia. Soesalit meninggalkan PID dan bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air), tentara sukarela bentukan Jepang.

BACA JUGA:Safari Ramadan ke Sukaraja, Bupati Gusril Pausi : Kami Harap Dukungan Penuh untuk Penertiban Hewan Ternak

BACA JUGA:Betulkah Mitra SPPG Raup Rp1,8 Miliar dari Potong Jatah MBG? Ayo Cek Fakta!!

Pasca proklamasi kemerdekaan RI, soesalit aktif dalam pergerakan nasional. Ia pernah menjabat sebagai Panglima Divisi III Diponegoro dan bergerilya di Gunung Sumbing saat Agresi Militer Belanda II.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: