Tips Puasa Aman bagi Penderita Diabetes
Tips Puasa Aman bagi Penderita Diabetes--ilustrasi
KAUR, RADARKAUR.DISWAY.ID - Memasuki penghujung Februari 2026, umat Muslim sudah seminggu melaksanakan ibadah wajib, yaitu puasa di bulan suci Ramadan ini. Bagi penderita diabetes (diabetesi), menjalankan ibadah puasa memerlukan perhatian ekstra guna menghindari risiko komplikasi akut seperti hipoglikemia (gula darah terlalu rendah) maupun hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi).
Pentingnya persiapan ini ditegaskan oleh dr. Amanda Trixie Hardi Galoeh, Sp. PD-KEMD, FINASIM, AIFO-K, selaku dokter spesialis penyakit dalam yang bertugas di Poli Penyakit Dalam RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, Kota Pontianak. Menurutnya, pengelolaan diabetes harus tetap berpegang pada prinsip medis meski pola makan berubah selama satu bulan penuh.
5 Pilar Pengobatan Diabetes di Bulan Ramadan
Amanda menjelaskan bahwa kunci keberhasilan puasa bagi diabetesi terletak pada konsistensi menjalankan lima pilar pengobatan.
"Sebenarnya pengobatan diabetes itu ada 5 pilar: edukasi (belajar), pengaturan makan, aktivitas fisik, olahraga, dan monitoring. Kelima pilar ini harus tetap dilakukan baik di bulan biasa maupun Ramadan agar kendali gula darah optimal," ujar Amanda kepada Pontianak Disway pada Kamis, 26 Februari 2026.
BACA JUGA:Suka Lapar Mata Saat Beli Takjil? Ini Tips Agar Pengeluaran Tak Membengkak
BACA JUGA:Nih, 5 Menu Sahur Sehat yang Mudah dan Praktis agar Tidak Lemas
Ia menekankan pentingnya melakukan mapping atau stratifikasi risiko sebelum memutuskan untuk berpuasa.
"Idealnya, sebelum Ramadan, pasien diabetes (khususnya tipe 2) melakukan mapping atau stratifikasi risiko bersama dokter. Dokter akan menentukan apakah pasien berisiko tinggi, sedang, atau rendah untuk berpuasa. Ada kondisi di mana dokter menyarankan pasien tidak berpuasa dan membayar fidyah saja, atau tetap puasa dengan penyesuaian dosis obat," jelasnya.
Mengatur Pola Makan: Hindari 'Makan Balas Dendam'
Perubahan jadwal makan dari tiga kali sehari menjadi dua kali (sahur dan berbuka) seringkali menjadi tantangan. Dr. Amanda menyoroti fenomena "loading karbohidrat" saat berbuka yang dipicu oleh rasa lapar yang bersifat hedonik.
"Untuk sahur, pasien diabetes wajib sahur dan tidak boleh melewatkannya. adapun bulan puasa sering terjadi loading karbohidrat berlebihan karena rasa lapar dan haus (hedonik). Hal ini menyebabkan lonjakan gula darah yang sangat tinggi," tambahnya.
Secara teknis, pembagian makan disarankan menjadi:
2 Kali Makan Besar: Saat sahur dan berbuka.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
