Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi

Selasa 27-01-2026,19:49 WIB
Reporter : Muhammad Isnaini
Editor : Muhammad Isnaini

“Bukan hanya mengajak ke kebun, tapi juga mengajak suami mendiskusikan apa yang akan dikerjakan di kebun,” sambung Supartina. “Besok, bagaimana kalau kita mengerjakan ini atau mengerjakan itu, menanam ini atau itu, atau saya mau mengerjakan ini, silakan bapak mengerjakan itu.” 

“Tidak lagi sekadar ikut suami, tetapi sudah mendiskusikan rencana,” timpal Julian. “Jadi, pergi ke kebun bersama suami terasa berbeda dibandingkan sebelum-sebelumnya, termasuk saat bekerja di kebun, dan pulang dari kebun.” 

Sambil tersenyum-senyum, ia menambahkan, “Terasa lebih romantis.” Seketika saung itu kembali ramai dengan suara tawa. 

Biarlah Dianggap Bodoh, Yang Penting Bahagia

“Mungkin,” sambung Mercy, “banyak pihak menganggap langkah kita membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim dengan menghidupkan kembali cara-cara nenek moyang ini tidak “modern” atau “maju”.” 

“Bahkan, mungkin dianggap bertentangan oleh pemerintah (daerah).” 

“Kalaupun pemerintah (daerah) menganggap kita bodoh, tertinggal, dan terbelakang, biarlah,” timpal Supartina. 

“Yang penting, hasil kebun kita lebih memuaskan, kebun kita lebih sehat, rumah tangga kita lebih harmonis, dan kita lebih bahagia,” sambungnya, yang direspons dengan anggukan mantap perempuan petani kopi lainnya sambil saling memandang.

Bangga, Dari Nenek Moyang untuk Anak Cucu

“Yang jelas,” tambah Mardalena, “kita sudah membuktikan dan merasakan sendiri berbagai perubahan yang telah terjadi pada tanah, kebun, kopi, tanaman lain, diri kita sendiri, dan keluarga kita.” 

“Semoga ke depannya, perubahan-perubahan lain yang akan terjadi membuat kita dan kebun kopi kita menjadi lebih baik lagi,” harapnya, yang juga direspons dengan anggukan mantap perempuan petani kopi lainnya. 

“Bagaimanapun juga,” sambung Nurlela, “kita harus bangga dengan konsep Kebun Kopi Tangguh Iklim.”

“Sebab kita sendirilah, perempuan petani kopi yang sering dianggap tidak tahu apa-apa dan tidak pernah ke mana-mana, yang membuatnya. Kita pun membuatnya dengan menghidupkan kembali cara-cara nenek moyang kita, dan kita menerapkannya untuk masa depan anak cucu kita.” 

Kategori :