Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi

Selasa 27-01-2026,19:49 WIB
Reporter : Muhammad Isnaini
Editor : Muhammad Isnaini

”Biarlah lambat, tapi banyak manfaat. Daripada cepat, tapi banyak mudarat,” tambahnya. 

“Kami di sini sudah menghidupkan kembali ganti hari,” Supartina melanjutkan. “Untuk sementara, ganti hari merigas rumput. Mudah-mudahan kedepannya juga bisa ganti hari merawat lubang angin dan membuat pupuk organik di lubang angin.”

“Iya Bu, kami juga sudah berencana menghidupkan kembali ganti hari,” timpal Mercy. “Rencanannya, tahap awal ganti hari merigas rumput, tapi kedepannya kami juga berharap bisa ganti hari merawat lubang angin dan membuat pupuk organik di lubang angin.”  

Kebun Sejuk, Kerja Nyaman

“Sekarang ini,” Mercy melanjutkan, “untuk merigas rumput di kebun juga sudah lebih enak. Tidak panas seperti sebelumnya. Rimbunnya pohon kopi membuat suhu di kebun menjadi sejuk.”

“Sebelumnya, cepat merasa gerah. Manen buah kopi pun harus cepat-cepat. Sebisa mungkin menghindari tengah hari. Walau pakai penutup kepala tambahan, masih terasa panas. Kalau tidak pakai, terasa bedengkang kepala.” 

“Sejak pohon kopi jadi rimbun, sudah tidak susah lagi mencari tempat beristirahat di kebun,” sambung Supartina. 

“Jadi ingat sewaktu kecil, sering bermain, bahkan tidur-tiduran di bawah rindangnya pohon kopi, jengkol, alpukat dan pohon lainnya.” 

“Dan, kalau diperhatikan, tidak banyak buah kopi gugur yang terlihat di bawah pohon kopi yang rimbun atau pohon kopi yang dibayangi oleh pohon alpukat, jengkol, durian atau pohon lainnya.”  

“Menanam pohon durian, alpukat, jengkol dan nangka sepertinya memang tidak mengganggu,” sambung Lena. 

“Apalagi, kalau jarak tanamnya diatur. Sebaliknya, bisa melindungi pohon kopi dari tetesan air hujan dan terik sinar matahari.” 

“Selain itu, buahnya juga bisa dimakan sendiri dan dijual. Hitung-hitung hasil panennya bisa menjadi tambahan, bahkan bisa menjadi tabungan,” katanya, sembari tangan kanannya memainkan pena plastik hitam di depan kakinya yang bersila.

Rindu Kebun, Relasi Romantis

Ia juga melanjutkan, “Sekarang ini, rasanya pengen setiap hari ke kebun.” 

“Biasanya, suami yang mengajak ke kebun. Kalau sekarang, saya yang mengajak suami. Kalau suami tidak mau ke kebun, saya tetap ke kebun.” 

Sembari tangannya masih trus memainkan pena, ia melanjutkan, “Kalau tidak ke kebun, kepala terasa sakit. Jauh berbeda bila ke kebun, bukan hanya kepala yang tidak merasa sakit, hati juga merasa senang.”

Kategori :