Pers yang Merdeka, Algoritma yang Menundukkan

Minggu 08-02-2026,15:12 WIB
Reporter : Muhammad Isnaini
Editor : Muhammad Isnaini

Pers juga harus membangun ulang hubungannya dengan publik, bukan sebagai pasar atau trafik, tetapi sebagai komunitas. Kepercayaan harus menjadi sumber daya utama, bukan efek samping. Ini berarti menerima kenyataan bahwa sebagian liputan penting tidak akan viral, tidak disukai algoritma, dan tidak nyaman bagi penguasa.

Jarak dengan kekuasaan pun harus ditegakkan kembali. Kedekatan yang terlalu intim hanya melahirkan kompromi bahasa dan tumpulnya kritik. Demokrasi tidak membutuhkan media yang akrab dengan penguasa, tetapi media yang cukup berjarak untuk tetap jernih.

Dan ke dalam dirinya sendiri, pers perlu lebih disiplin. Mengurangi sensasionalisme. Memperlambat ritme ketika perlu. Memilih akurasi daripada kecepatan. Dalam dunia yang serba instan, keputusan untuk berjalan lambat adalah bentuk perlawanan yang sunyi dan mahal.

Semua ini bukan jalan yang mudah. Akan ada media yang runtuh. Akan ada jurnalis yang lelah. Akan datang masa ketika kejujuran terasa tidak dihargai. Tetapi pers tidak pernah lahir dari kenyamanan. Ia selalu tumbuh dari ketegangan antara kekuasaan dan nurani.

Pers mungkin tidak lagi dibungkam oleh negara. Tetapi hari ini, ia diuji oleh ekosistem ekonomi yang timpang, oleh algoritma, oleh kedekatan dengan kekuasaan, kompromi-kompromi kecil yang jika dikumpulkan, perlahan menjauhkan jurnalisme dari fungsi utamanya.

Dan mungkin, ukuran kemerdekaan pers hari ini bukan lagi seberapa keras ia bisa berbicara, melainkan seberapa siap ia menanggung konsekuensi dari kejujuran itu sendiri. Bahkan ketika pahit. Bahkan ketika berat. Bahkan ketika tidak menjanjikan apa pun selain satu hal: integritas.

Kategori :