Pulau Maya dan Jejak Perkampungan Pasukan Kubilai Khan Sebelum Takluk oleh Raden Wijaya

Minggu 08-03-2026,13:53 WIB
Reporter : (Muhlis Suhaeri)
Editor : Muhammad Isnaini

Tak hanya ke Jawa, kapal Tiongkok juga ke Palembang untuk perdagangan. Dari Tiongkok, ada komoditas keramik, besi, sutera dan lainnya. Dari Palembang, ada rempah, dan lainnya.

Jejak pasukan Kubilai Khan terlihat di Pulau Maya. Ada galangan kapal di Teluk Nuri. Teluk bagus untuk hindari badai. Ada banyak bangkai kapal zaman dulu. Di Dusun Besar banyak ditemukan kayu belian. Jenis kayu keras khas Kalimantan, bagus untuk perbaiki kapal.

Ada sumber air bersih yang bagus. Sangat ideal untuk perbekalan. Ada lahan yang bisa ditanami untuk pangan. Bisa menanam padi.

Salah satu perbekalan yang bagus untuk pelayaran adalah kelapa tua. Airnya bisa diminum. Buah kelapa bisa makan.  Arang bisa digunakan untuk api. Artinya, semua bagian bisa digunakan.

Untuk dukung kehidupan perkampungan, didatangkan orang Dayak dari Telok Melano, Sukadana. Ada bukti kehadiran orang Dayak di perkampungan. Ditemukan beliung atau kampak, manik-manik dan berbagai perlengkapan upacara adat.

“Kalau dilihat dari lokasinya, Dusun Besar dan Dusun Kecil, ada perbukitan yang cocok digunakan untuk pertanian,” kata Edi, ahli tambang dan pemerhati sejarah. Edi telah mengumpulkan banyak artefak dari Pulau Maya.

Terkait keberadaan orang Dayak di Pulau Maya, hingga saat ini, masih banyak orang Dayak dari Melano, ziarah keluarga atau leluhur di Pulau Maya. Mereka mengakui, leluhurnya yang menanam durian, dan lainnya. Durian sudah ada pada abad ke 11 dan 12.

Di Pulau Maya pernah ditemukan arca Buddha. Tradisi Buddha biasanya memakamkan orang yang meninggal dengan kremasi atau dibakar. Abunya disimpan dalam tempayan kecil selebar 30 cm hingga 40 cm.

Tempayan ditanam 50 cm di tanah. Di tempayan berisi abu pembakaran, biasanya keluarga menyertakan perhiasan dari emas.

Tak hanya emas dan gerabah, Pulau Maya jadi lokasi perbaikan kapal. “Pernah ditemukan kayu papan, tapi itu bukan kayu ulin atau kayu Kalimantan,” kata Edi.

Tanjung Satai dari Udara


Tanjung Satai di Pulau Maya dilihat dari udara dengan pemandangan laut dan dermaga di pinggir perkampungan.(Foto Warta Kayong)--ilustrasi

Namun, jejak kehidupan perkampungan itu menghilang begitu saja. Kenapa hilang begitu saja?

Pada zaman dulu, diperkirakan ada serangan perompak laut. Adanya emas tak hanya buat orang datang untuk cari emas. Juga mengundang bajak laut untuk datang dan mencari emas.

Ada bekas-bekas tunggul terbakar. Ada tanda kematian dan pembantaian. Lokasi yang dapat menggambarkan pembantaian itu, ada di wilayah Pasir Putih. Pernah juga ditemukan tengkorak-tengkorak manusia, seperti bekas pembantaian di Pulau Hantu.

Di Dusun Totek, banyak ditemukan tunggul-tunggul kayu bekas kebakaran. Ada bekas kayu bulat 40 cm lebarnya. ”Entah gimana nanjakkannya tuh,” kata Hasan.

Kategori :