Kerap Disamakan, Berikut Perbedaan Krisis dan Resesi Ekonomi
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan bahwa krisis ekonomi masih lebih “ringan” ketimbang resesi ekonomi.--ilustrasi
Krisis ekonomi adalah situasi di mana terjadi penurunan beberapa indikator ekonomi tertentu. Misalnya, seperti krisis finansial aatau moneter, yang berarti hanya sektor keuangan, nilai tukar rupiah, hingga kinerja perbankan saja yang mengalami masalah.
Sementara itu, resesi ekonomi terjadi ketika indikator makroekonomi penting suatu negara memasuki zona negatif. Di mana, melemahnya indikator-indikator tersebut bisa memukul sektor riil dan sektor pasar modal di waktu bersamaan.
Pengertian resesi juga ditegaskan oleh lembaga penelitian di AS, National Bureau of Economic Research (NBER), yang mengatakan bahwa resesi adalah indikasi turunnya daya beli masyarakat secara umum dan naiknya angka pengangguran.
Dengan kata lain, dampak resesi ekonomi tentu akan lebih parah dibanding krisis. Namun, perbedaan resesi dan krisis ekonomi tak hanya terletak di sisi keparahannya, tetapi juga pada panjang waktunya.
Bhima mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang negatif di satu kuartal bisa dikategorikan sebagai krisis. Hanya saja, hal itu tidak serta merta bisa dikategorikan sebagai resesi. Sebab, menurut pengertiannya, resesi adalah pertumbuhan ekonomi yang masuk ke zona negatif dalam dua kuartal berturut-turut.
BACA JUGA:Alarm Bahaya dari Kasus Amsal Sitepu bagi Industri Kreatif saat Kreativitas dihargai Nol
BACA JUGA:Polres Kaur Ungkap Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Bawah Umur
Di bawah ini adalah ciri-ciri yang umum digunakan untuk mendeteksi resesi ekonomi:
1. Guncangan ekonomi yang tiba-tiba
Terjadinya pandemi COVID-19 yang memukul sektor ekonomi di seluruh dunia adalah contoh yang lebih baru dari goncangan ekonomi yang tiba-tiba.
2. Utang yang berlebihan
Saat individu atau dunia usaha mengambil terlalu banyak utang, mereka bisa terjebak ke gagal bayar utang. Kondisi inilah yang membuat kebangkrutan dan membalikkan perekonomian.
3. Gelembung aset
Investasi berlebihan di pasar saham atau real estate diibaratkan seperti gelembung yang bisa membesar. Ketika gelembung meletus, terjadi penjualan dadakan yang dapat menghancurkan pasar dan menyebabkan resesi.
4. Inflasi Terlalu Tinggi
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
