Linau, Desa Penghasil Gurita

Linau, Desa Penghasil Gurita

RADARKAUR.ID - Desa Linau Kecamatan Maje Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu terkenal dengan pantainya yang indah. Selain itu, desa yang terletak di garis pantai barat sumatera ini terkenal sebagai salah satu desa yang terbesar penghasil Gurita di kabupaten tersebut. Desa ini juga jadi tempat penampungan gurita basah dari nelayan desa-desa tetangga, seperti dari nelayan Desa Merpas Kecamatan Nasal. Diketahui, sebagai besar ibu rumah tangga di desa ini memproduksi gurita kering untuk skala industri rumahan. Kedua jenis olahan Gurita ini memiliki cara pemasaran yang berbeda. Mulai dari Gurita basah, biasanya para nelayan dati Desa Linau maupun dari desa-desa lainnya menjual Gurita basah tersebut kepada penampung atau biasa disebut toke. Sedangkan, untuk Gurita kering biasanya para pengelola menjual langsung kepada konsumen. Baik sejenis pesanan maupun membeli langsung di lokasi. Para pembelinya pun beragam, karena tempat penjemuran atau pengolahan Guritanya di pinggir jalan, jadi banyak warga yang melintas dari arah Lampung maupun Bengkulu yang mampir untuk membeli makan yang menjadi ciri khas Kaur itu. Saat melintasi Jalinbar, ketika tiba di Desa Linau ini, anda akan banyak menemukan jemuran Gurita kering yang berjejer hampir di setiap teras rumah warga. Masyarakat di sana mengolah dan menjual Gurita kering itu lantaran harga jualnya jauh lebih tinggi daripada Gurita yang masih basah. Harga jualnya mahal bukan tanpa alasan, selain lebih awet gurita kering ini bisa dikelola menjadi beberapa produk makanan seperti kerupuk. Harga Gurita kering sendiri bisa mencapai Rp 80.000 hingga Rp 130.000/kilonya, itu juga tergantung dengan ukuran Guritanya. Sedangkan untuk Gurita basah biasanya para nelayan menjualnya ke penampung hanya di angka Rp 25.000 hingga Rp 50.000/kilonya. Perbedaan harga tersebut cukup lumayan. Itu juga yang membuat banyak masyarakat di Desa Linau mengolah Gurita basah menjadi Gurita kering. Iki (29) salah satu nelayan mudah yang sering menangkap Gurita, semua kalangan masyarakat pada dasarnya bisa melakukan penangkapan Gurita ini. Kalau pada jaman dahulu, biasanya masyarakat yang sering melakukan penangkapan Gurita ini merupakan perempuan. Hasil yang ditangkap hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangganya saja. Para wanita menangkap Gurita saat air laut sedang surut. Sebab, biasanya Gurita banyak ditemui hanya disekitar terumbu karang yang dekat dengan bibir pantai saja. Adapun alat yang mereka gunakan untuk menangkap Gurita ini diantaranya sebatang kayu yang kemudian dipasang sejenis tombak dari besi yang diberikan tali untuk pengikat saat mendapatkan sasaran. Metode seperti itu, dari waktu ke waktu berganti dengan kreativitas nelayan itu sendiri. Mulai dari senar dan mata kail, namun ada juga yang masih menggunakan alat tradisional sebelumnya. Tahun demi tahun permintaan pasar terhadap Gurita ini semakin tinggi. Harga yang diberikan dipasaran pun juga terbilang stabil. Dan sekarang Gurita sendiri sudah menjadi salah satu makan yang paling dicari oleh para wisatawan lokal maupun mancanegara. Dengan seiring waktu para warga yang menangkap Gurita ini tidak hanya kaum perempuan saja. Para nelayan yang pada umumnya di dominasi laki-laki juga banyak yang melakukan penangkapan dengan cara memancing. Cara nelayan melakukan penangkapan dengan cara memancing ini tentu berbeda dari cara-cara sebelumnya. Mulai dari wilayah yang cocok untuk melakukan penangkapan hingga alat yang digunakan. Kebanyakan para nelayan ini melakukan aktivitas memancingnya pada wilayah perairan yang mulai menjorok ke laut. Untuk mencapai lokasi memancing ini biasanya para nelayan menggunakan perahu. Dan biasanya mereka tidak fokus memancing Gurita saja, namun mereka juga melakukan penangkapan ikan jenis lainnya. Untuk diketahui, hingga saat ini nelayan yang paling banyak menyuplai Gurita basah ke Desa Linau ini merupakan nelayan dari Desa Merpas. Kualitas Gurita Merpas ini terkenal sangat baik, mulai dari ukurannya yang dominan besar hingga kualitas nya memang yang terbaik. Bahkan, untuk Gurita yang kualitas ekspor, yang dipakaipun merupakan Gurita dari Desa Merpas tersebut. (roh)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: