Para pekerja menegaskan, mogok kerja ini merupakan bentuk protes atas keterlambatan pembayaran upah sekaligus upaya menuntut hak mereka.
Mereka berharap pihak penanggung jawab proyek segera memberikan kejelasan agar pembangunan dapur MBG dapat kembali dilanjutkan.
Selain itu, para pekerja juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap kelanjutan proyek apabila persoalan upah ini tidak segera diselesaikan.
Mereka menilai, jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi tersebut dapat merugikan semua pihak, termasuk masyarakat yang nantinya akan menerima manfaat dari program MBG.
BACA JUGA:Sempat Viral, Bendungan Seluma Makan Korban Jiwa Bocah 8 Tahun
BACA JUGA:Maklumat Resmi MUI Kota Bengkulu jelang Ramadan: Jika Ada Perbedaan, Mari Kita Saling Menghargai!
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak mandor atau pemborong proyek pembangunan dapur MBG belum berhasil dikonfirmasi.
Upaya menghubungi melalui sambungan telepon tidak membuahkan hasil karena nomor yang bersangkutan tidak aktif.
Merasa tidak mendapat kepastian, sejumlah pekerja bahkan mengancam akan mengambil langkah tegas dengan mengangkut sebagian material bangunan yang dapat dijual sebagai pengganti upah yang belum dibayarkan.
Namun, mereka menegaskan bahwa langkah tersebut bukan pilihan utama, melainkan bentuk kekecewaan akibat tidak adanya itikad baik dari pihak mandor.
Para pekerja berharap persoalan ini segera mendapat perhatian dari pihak terkait maupun instansi berwenang, sehingga hak mereka dapat dipenuhi dan pembangunan dapur program MBG di Kota Tais dapat kembali berjalan sesuai rencana.