Board of Peace dan Logika Gus Baha’

Board of Peace dan Logika Gus Baha’

Board of Peace dan Logika Gus Baha’--ilustrasi

"Wahai Rasulullah, bukankah engkau benar-benar utusan Allah?" Nabi: "Benar." Umar: "Bukankah kita berada di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan?" Nabi: "Benar." Umar: "Lalu, mengapa kita memberikan kehinaan kepada agama kita (dengan setuju pada perjanjian ini)?"

Nabi SAW menjawab dengan jawaban yang sangat tenang namun prinsipil: "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, dan aku tidak akan mendurhakai-Nya, dan Dialah Penolongku."

Meskipun isi perjanjiannya tampak merugikan, Allah SWT menurunkan Surat Al-Fath ayat 1 yang menyebut peristiwa ini sebagai "Kemenangan yang Nyata". 

Karena dalam masa gencatan senjata itu: Jumlah pengikut Islam meningkat. Akibat interaksi sosial dalam situasi tanpa perang. 

Perjanjian ini pula yang menjadi pintu pembuka jatuhnya Mekkah ke tangan kaum Muslimin tanpa pertumpahan darah dua tahun kemudian. Tahun ke-8 Hijriah.

Protes Umar

Reaksi Umar bin Khattab ra., terhadap Perjanjian Hudaibiyah adalah kisah yang sering diangkat Gus Baha’. Tetapi menariknya, Gus Baha’ menyebut Umar "Salah" tapi "Wajar". Mengapa? Gus Baha’ memberikan perspektif yang sangat manusiawi mengenai kejadian ini. Pertama: Logika Umar (Kebenaran Frontal). Umar mewakili logika rakyat banyak yang ingin "pokoknya benar harus menang" dan "jangan mau diinjak". Ini adalah sikap heroik yang penting dalam perjuangan.

Kedua: Logika Nabi (Kebenaran Strategis). Nabi melihat apa yang tidak dilihat Umar. Nabi tahu bahwa dengan "mengalah" secara tulisan, beliau sedang memenangkan masa depan.

Pelajaran untuk Kita: Gus Baha’ mengingatkan agar kita tidak buru-buru menghujat kebijakan pemimpin yang tampak "lemah" di mata publik. Bisa jadi, itu adalah strategi Mudarah. Untuk menghindari tabrakan yang lebih besar. Yang bisa menghancurkan umat.

Relevansi dengan bergabungnya Indonesia ke BoP hampir sama. Bedanya tentu bukan Nubuwah. Karena Nabi akhir zaman adalah Muhammad SAW. Tidak ada lagi yang mampu menyamai dengan bobot dan kadar yang sama. 

Tetapi kritik dalam posisi Umar ra., wajar. Marah. Karena merasa harga diri bangsa Indonesia terkoyak dengan bergabung ke badan bentukan Trump. Ini adalah wujud kecintaan pada kedaulatan (mirip semangat Umar). Dan ini penting. Harus ada. 

Tetapi posisi Pemerintah boleh jadi sedang "membeli waktu" atau "mencari ruang" agar Indonesia tidak tergilas oleh kebijakan superpower yang tidak terduga. 

Trump dan Uyainah 

Kedua: Dalam hadits Shahih Bukhari (Nomor 6032) dan Shahih Muslim (Nomor 2591), ada seorang laki-laki yang berniat menemui Nabi. Walaupun dalam hadits disebut "seorang laki-laki", tetapi para ulama pensyarah hadits (seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari) mengonfirmasi bahwa sosok tersebut adalah Uyainah bin Hishn Al-Fazari.

Uyainah adalah sosok yang disebut sebagai "Al-Ahmaq al-Mutha'" (Orang pandir yang ditaati). Prototipe orang yang "kurang sopan secara lahiriah". Sombong. Semau gue. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: