Putusan Otak

Putusan Otak

Donald Trump/ @instagram--

Mana surat keputusannya?

"Masih di dalam pikiran. Presiden bisa memutuskan dari pikiran," katanya ketika diwawancarai di FoxNews dua hari lalu.

Ya sudah. Berarti Trump sudah memutuskan semua dokumen itu sudah bukan rahasia negara. 

Maka kalau saja Trump berkunjung ke Blora ia pasti dilempari batu oleh keturunan Samin di sana.

Pola pikir Samin tidak begitu. Itu justru menghina Samin.

Grup pesantren kami punya madrasah unggulan di Randublatung, pusat Samin di selatan kota Blora: Pesantren Sabilil Muttaqin, PSM.

Saya sering ke sana. Saya izinkan mereka ikut demo kalau Trump berkunjung ke Randublatung besok: ikut acara PSM Bersalawat .

Trump seperti terus saja terpeleset lidah. Atau memang orangnya begitu. Mungkin jalan pikirannya betul: semua keputusan dibuat di pikiran.

Jadi, kalau Trump bilang ia sudah memutuskan semua itu bukan dokumen rahasia orang lain harus percaya kepadanya. Termasuk para penyelidik itu.

Tapi para penyelidik tidak percaya. Kecuali Trump melubangi kepalanya, lalu mengambil bagian otaknya yang memutuskan itu, untuk diserahkan ke FBI.

Sebagai barang bukti. Cuilan otak itulah barang bukti bahwa ia sudah membuat keputusan.

Tentu Trump tidak mau melubangi kepalanya. Ia hanya berargumen. Sebagai taktik mengulur waktu. Dan lagi Trump memang punya hobi mengabaikan bukti.

Tuduhannya bahwa pemilu curang tanpa bukti. Tuduhan bahwa Presiden Biden mencuri suara tanpa bukti. Tuduhan Obama tidak lahir di Amerika tanpa bukti.

Juga pekan lalu. Seminggu sebelum ia mengatakan ''sudah membuat keputusan di dalam pikiran''.

Ia melontarkan tuduhan baru pada FBI: penyelidik sengaja membawa dokumen rahasia ke rumahnya, lalu ditaruh di situ, untuk kemudian disita sebagai barang bukti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: