Suka Lapar Mata Saat Beli Takjil? Ini Tips Agar Pengeluaran Tak Membengkak

Suka Lapar Mata Saat Beli Takjil? Ini Tips Agar Pengeluaran Tak Membengkak

Suka Lapar Mata Saat Beli Takjil? Ini Tips Agar Pengeluaran Tak Membengkak--ilustrasi

KAUR, RADARKAUR.DISWAY.ID - Aneka takjil yang dijajakan pedagang menjelang jam buka puasa kerap menggoda selera puasa. Namun, kebiasaan "lapar mata" saat berburu menu berbuka tak jarang membuat pengeluaran membengkak dan makanan terbuang sia-sia.

Perencana keuangan sekaligus pendiri Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Soetikno mengingatkan pentingnya pengelolaan anggaran selama Ramadhan agar pengeluaran tidak membengkak. 

Dalam mengelola anggaran bulanan, secara umum bisa menerapkan skema 40/30/20/10 dengan rincian 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen kewajiban seperti cicilan, 20 persen investasi atau tabungan, serta 10 persen untuk alokasi sosial seperti zakat dan donasi.

Dalam skema tersebut, membeli takjil termasuk dalam pos kebutuhan pokok. Artinya, pembelian takjil harus disesuaikan dengan batas anggaran yang sudah ditetapkan, bukan mengikuti keinginan sesaat.

BACA JUGA:Safari Ramadan Muhammadiyah Kabupaten Kaur, H Herwan : Momentum Mempererat Ukhuwah

BACA JUGA:Minggu Pertama Ramadan 1447 H, Harga Gas Elpiji 3 Kg mulai Melangit, Tembus Segini!!

"Memang ya, takjil itu apalagi kalau kita pergi ke bazar Ramadhan bikin ngiler. Tapi kita harus mengontrol jangan sampai malah lapar mata, dan pada akhirnya makanan itu mubazir dan uang terkuras," kata Mike.

Mike menilai fenomena "lapar mata" saat berburu takjil sering kali membuat orang membeli berbagai jenis jajanan dalam jumlah besar. Padahal, kapasitas perut setelah seharian berpuasa terbatas. Akibatnya, saat berbuka puasa, seseorang sudah kenyang oleh makanan manis dan gorengan.

"Kalau terlalu banyak makan takjil nantinya keburu kenyang yang manis-manis. Makanan utama yang lebih bergizi malah tidak termakan dan jadi wasting," kata Mike.

Kondisi ini bukan hanya merugikan secara finansial, tetapi juga meningkatkan sampah makanan. la menekankan pentingnya menerapkan prinsip hidup berkelanjutan dengan meminimalkan makanan terbuang. 

"Mubadzir juga kan tidak sejalan dengan nilai Islam," kata dia.

BACA JUGA:Ratusan Botol Miras Disita Polsek Kaur Selatan

BACA JUGA:Menteri PPPA Desak Oknum Aparat Pembunuh Anak di Tual Dipecat dan Dihukum Berat: Tak Ada Toleransi!

Mike menyampaikan, selama Ramadhan pola makan umumnya hanya dua kali sehari yakni saat berbuka puasa dan sahur. Karena itu, takjil seharusnya dipandang sebagai bagian dari keseluruhan jadwal makan, bukan sekadar jajanan tambahan. la pun menyarankan agar masyarakat mengevaluasi jadwal makan harian.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: