Sawit Itu Pohon: Saatnya Mengakhiri Perdebatan yang Tidak Perlu

Minggu 08-02-2026,14:49 WIB
Reporter : Muhammad Isnaini
Editor : Muhammad Isnaini

Jika sawit ditolak sebagai pohon hanya karena tidak menghasilkan kayu sekunder, maka secara ilmiah konsisten seluruh keluarga palma juga harus dikeluarkan dari kategori pohon. Padahal, dalam praktik akademik global, hal tersebut tidak pernah dilakukan.

Perbedaan perlakuan terhadap sawit dibanding palma lain justru menunjukkan bahwa perdebatan ini seringkali tidak sepenuhnya berbasis sains, melainkan dipengaruhi persepsi ekonomi dan politik lingkungan yang melekat pada komoditas sawit.

Sawit memang tidak berkayu — tetapi itu bukan kekurangan

Sawit tidak memiliki kambium dan tidak membentuk kayu sekunder sebagaimana pohon dikotil. Namun menjadikan ketiadaan kayu sekunder sebagai alasan menolak sawit sebagai pohon justru menunjukkan cara pandang yang terlalu sempit terhadap evolusi tumbuhan.

Palma, termasuk sawit, mengembangkan strategi struktural berbeda. Batangnya bukan kayu dalam pengertian anatomi klasik, melainkan tersusun atas biomassa lignoselulosa dengan jaringan serat vaskular yang sangat kuat. Struktur ini memungkinkan sawit menopang biomassa besar dan tumbuh tinggi secara stabil di lingkungan tropis.

Dengan kata lain, alam tidak hanya memiliki satu cara untuk menciptakan pohon. Palma menunjukkan bahwa evolusi menyediakan lebih dari satu jalur untuk membangun struktur vegetasi yang kokoh.

Ketika batang sawit justru menjadi material kayu industri

Menariknya, dalam perkembangan ilmu biomaterial modern, batas antara kayu dan non-kayu mulai bergeser. Batang kelapa sawit, yang dikenal sebagai Oil Palm Trunk (OPT), terbukti mengandung lignoselulosa—komponen utama penyusun kayu—yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa, dan lignin.

Secara material, batang sawit telah dimanfaatkan untuk memproduksi plywood, papan partikel, laminated veneer lumber, hingga bahan konstruksi dan furnitur (Bakar et al., 2008; Erwinsyah et al., 2010). Bahkan beberapa penelitian menunjukkan serat perifer batang sawit memiliki kekuatan mekanik dan tingkat kelenturan yang kompetitif dengan beberapa jenis kayu ringan (Ratnasingam et al., 2011).

Fakta ini menunjukkan bahwa jika kayu dipahami secara fungsional sebagai biomassa lignoselulosa yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri perkayuan, maka batang sawit secara praktis memenuhi karakter tersebut.

Lebih jauh, pemanfaatan batang sawit dari program peremajaan perkebunan bahkan berpotensi mengurangi tekanan terhadap eksploitasi kayu dari hutan alam. Dalam perspektif bioekonomi sirkular, sawit justru dapat menjadi sumber bahan baku alternatif bagi industri kehutanan sekaligus mengurangi tekanan kebutuhan kayu dari hutan alam.

Perdebatan yang salah sasaran

Kegaduhan mengenai status sawit sebagai pohon sesungguhnya berpotensi mengalihkan perhatian dari persoalan yang jauh lebih substansial: bagaimana sawit dikelola.

Fakta ekologis menunjukkan bahwa keberlanjutan vegetasi tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya kambium. Banyak spesies pohon berkayu yang jika ditebang secara masif, dikelola dengan pola monokultur ekstrem, atau dikembangkan tanpa perencanaan lanskap, tetap menghasilkan kerusakan lingkungan yang serius.

Sebaliknya, tanaman palma yang sering dituduh bukan kayu ternyata dapat memberikan fungsi ekologis yang signifikan jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan.

Ekologi modern tidak menilai vegetasi hanya dari identitas biologisnya, tetapi dari fungsi yang dihasilkan dalam suatu sistem lanskap, seperti kemampuan menyerap karbon dan menghasilkan biomassa, menjaga hidrologi, mendukung biodiversitas, serta menopang stabilitas tanah (Chapin et al., 2011; Hooper et al., 2005).

Kategori :