Dari Ajudan ke Bupati, Gusril Pausi Jaga Silaturahmi dengan H. Basyirin Ali di Hari Raya
Masih Dalam nuansa penuh berkah Hari Raya Idulfitri 1447 H, terselip sebuah kisah yang sarat makna tentang kesetiaan, penghormatan, dan keteladanan. Bupati Kaur, Gusril Pausi, melangkahkan kaki mengunjungi sosok yang pernah menjadi panutan dalam perjalana--ilustrasi
BENGKULU, RADARKAUR.DISWAY.ID - Masih Dalam nuansa penuh berkah Hari Raya Idulfitri 1447 H, terselip sebuah kisah yang sarat makna tentang kesetiaan, penghormatan, dan keteladanan. Bupati Kaur, Gusril Pausi, melangkahkan kaki mengunjungi sosok yang pernah menjadi panutan dalam perjalanan hidupnya, mantan Sekretaris Daerah Kota Bengkulu, H. Basyirin Ali.
Bukan sekadar kunjungan biasa, pertemuan ini menghadirkan kenangan akan masa lalu—saat Gusril Pausi masih menjadi ajudan beliau. Dari kedekatan itulah, ia belajar tentang arti tanggung jawab, ketegasan dalam memimpin, serta keikhlasan dalam mengabdi.
Kini, takdir telah mengantarkannya menjadi seorang bupati. Namun, di tengah capaian tersebut, ia tetap menundukkan hati, menjaga adab, dan tidak melupakan jasa orang yang pernah membimbingnya. Idulfitri menjadi momen yang tepat untuk merajut kembali silaturahmi, sekaligus meneguhkan nilai bahwa keberhasilan sejati tidak lepas dari peran para guru dan panutan.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa setinggi apa pun langkah seseorang, akar kerendahan hati harus tetap tertanam kuat. Karena pada akhirnya, kemuliaan bukan hanya diukur dari jabatan, tetapi dari seberapa besar kita menghargai mereka yang pernah menuntun langkah kita.
BACA JUGA:Sidak Pasca Lebaran, Pemda Kaur Dorong Kinerja Aparatur yang Terarah dan Akuntabel lewat SKP
BACA JUGA:Wisatawan Diimbau Tetap Patuhi Aturan dan Budaya Lokal Kabupaten Kaur
“Dari seorang ajudan hingga menjadi bupati, perjalanan sejati bukan hanya tentang pencapaian, tetapi tentang bagaimana kita tetap menjaga silaturahmi dan menghormati mereka yang pernah membimbing langkah kita.”
“Kesuksesan yang bernilai adalah ketika kita tidak melupakan jasa guru dan panutan, serta tetap merendahkan hati di puncak pencapaian.”
“Idulfitri bukan sekadar hari kemenangan, tetapi momen untuk kembali mengingat asal-usul, mempererat hubungan, dan meneguhkan rasa terima kasih.”
“Setinggi apa pun jabatan seseorang, kemuliaan sejati terletak pada kerendahan hati dan penghargaan kepada mereka yang pernah menuntun jalan kita.”
Di bulan suci Syawal 1447 H yang penuh keberkahan, saya belajar kembali tentang arti ketulusan dan penghormatan.
Dengan penuh rasa hormat, saya mencium tangan Bapak H. Basyirin Ali beserta istri, sosok yang telah menjadi panutan dalam perjalanan hidup dan pengabdian saya. Jauh sebelum saya berada di posisi ini, beliau adalah tempat saya belajar tentang loyalitas, dedikasi, dan keikhlasan dalam melayani.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
