Iran vs AS, jadi Perang atau Tidak?
Iran vs AS, jadi Perang atau Tidak?--ilustrasi
Selain itu, sejumlah negara di Timur Tengah, termasuk Uni Emirat Arab (UEA), menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun perairannya digunakan untuk menyerang Iran.
Namun kehadiran gugus tempur kapal induk AS di Laut Mediterania membuat izin dari banyak negara ketiga tidak lagi diperlukan untuk melancarkan serangan.
Simulasi Penyerangan
AS akhir pekan lalu mengumumkan akan menggelar latihan di kawasan tersebut untuk menunjukkan kemampuan dalam mengerahkan, menyebarkan, dan mempertahankan kekuatan tempurnya.
Serangan awalnya tidak untuk menyasar program nuklir Iran yang telah rusak akibat serangan 12 hari AS dan Israel pada Juni lalu 2025, melainkan menargetkan kepemimpinan politik Iran.
Namun agaknya, dalam beberapa jam terakhir Presiden AS Donald Trump menurunkan targetnya hanya untuk bernegosiasi dengan Iran agar tidak melanjutkan program nuklirnya.
Pada awalnya, Tujuan utama serangan tersebut dinilai untuk mendorong kembali protes publik yang dipicu penurunan standar hidup dan lonjakan inflasi.
Data resmi menunjukkan, inflasi Iran dalam satu bulan terakhir mencapai 60 persen.
Akan tetapi, rakyat Iran menunjukan dukungannya kepada pemerintah dalam situasi sulit dan menginginkan rezim untuk tidak tunduk kepada keinginan Trump.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menuding AS berupaya merusak kohesi sosial Iran sebelum melancarkan serangan militer.
Larijani menyatakan, langkah Presiden AS Donald Trump menggambarkan Iran seolah berada dalam keadaan darurat.
“Ketika mereka (kubu anti pemerintah) menyerbu pusat-pusat militer dan kepolisian untuk memperoleh senjata, hal itu menunjukkan bahwa mereka berupaya memicu perang saudara,” tuturnya.
Memecah kohesi publik
Pada bagian lain, Larijani menyebutkan, taktik AS diperkirakan dengan terlebih dahulu memecah kohesi publik dan baru kemudian melancarkan serangan militer.
Sementara Jubir Kemlu Iran Esmail Baghaei membantah adanya komunikasi antara utusan khusus AS Steve Witkoff dan Menlu Iran Abbas Araghchi terkait kemungkinan kesepakatan diplomatik.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
