Iran vs AS, jadi Perang atau Tidak?

Iran vs AS, jadi Perang atau Tidak?

Iran vs AS, jadi Perang atau Tidak?--ilustrasi

Steve Witkoff belakangan meningkatkan tuntutannya, termasuk pengembalian inspektur senjata PBB, penghapusan seluruh uranium Iran yang diperkaya tinggi, serta pembatasan program misil Iran.

Baghaei menyatakan, angkatan bersenjata Iran secara cermat memantau setiap pergerakan dan ia meperingatkan bahwa pengerahan pasukan dan ancaman militer bertentangan dengan prinsip-prinsip sistem internasional.

“Jika prinsip-prinsip tersebut dilanggar, ketidakamanan akan menimpa semua pihak,” ujar Bahaei.

Trump sebelumnya menunda serangan terhadap Iran dua pekan lalu di tengah gelombang protes karena khawatir tidak memiliki opsi yang pas untuk menyingkirkan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Sebagian warga Iran menyimpan kekecewaan terhadap Trump karena belum menepati janji membantu para demonstran.

AS terbelah

Pemerintahan AS sendiri masih terbelah terkait dorongan menuju perubahan rezim di Iran yang berpenduduk sekitar 90 juta jiwa. Jumlah korban tewas akibat penindakan demonstrasi masih bervariasi secara signifikan.

Lembaga HAM Human Rights Activists News Agency menyebut, jumlah korban tewas demonstran telah mencapai 5.419 orang. Kelompok tersebut juga masih menyelidiki sekitar 17.000 kematian lainnya.

Pelapor khusus PBB untuk Iran, Mai Sato, menyatakan tidak dapat memverifikasi angka tersebut.

Sato, yang juga profesor di Birkbeck, London, mengklaim keluarga korban diminta membayar tebusan sebesar 5.000 hingga 7.000 dollar AS untuk mengambil jenazah.

Pemerintah Iran membantah tudingan tersebut. Departemen komunikasi Iran menyatakan, dunia usaha tidak dapat menoleransi pemadaman jaringan lebih dari 20 hari.

Di Eropa, Menlu Italia Antonio Tajani mengatakan akan merekomendasikan kepada Dewan Urusan Luar Negeri Uni Eropa agar Korps Garda Revolusi Iran ditetapkan sebagai organisasi terlarang.

Jika jadi diancarkan, kemungkinan AS terlebih dulu akan membungkam sistem pertahan udara Iran berupa sarang-sarang rudal darat ke udara dan artileri anti serangan udara, instalasi radar dan markas komando utama Iran.

Bisa jadi, AS juga sudah menanamkan intelijen atau kaki-tangannya di wilayah Iran, untuk melancarkan operasi rahasia, membunuh atau kalau bisa menyandera petinggi Iran seperti yang dilakukannya terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro awal Januari lalu.

Jika itu dilakukan, harus dengan operasi presisi tinggi, mengingat para pemimpin Iran tentu dikawal berlapis-lapis, baik oleh pasukan reguler dan Garda Revolusi (IRCGC) , satuan pengawal, dan diamankan di bunker-bunker tersembunyi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: