Siapa Membunuh Putri (20): Jangan Mengadu Domba

Siapa Membunuh Putri (20): Jangan Mengadu Domba

Ancaman yang diterima wartawan terkait pemberitaan--(dokumen/radarkaur.co.id)

”Atau, bayar saya dengan cintamu. Saya mau…,”

“Oh, kalau itu gak cukup dengan kerja gratis di majalah dakwah itu saja. Dan kontraknya harus sampai mati,… Berani?” 

Kami terdiam. Hanya sekilas berpandangan lalu saling lempar mata ke arah lain. Aku menatap ke samping, Inayah menatap lurus ke depan. 

”Sudah ada nama majalahnya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.   

”Manzilah. Bagus kan? Artinya… peredaran. Garis edar,” kata Inayah.

”Bagus… Kata itu ada di Surah Yasin ya…” 

Kami kembali terdiam.  Sampai mobil berhenti di pesantren. Malam itu saya tidur di asrama pesantren. Saya tidur dengan sangat nyenyak.

Tapi kata anak-anak santri, malam itu saya bermimpi. Saya seperti bernyanyi atau bersenandung. Saya tak pernah bermimpi begitu.

Pagi-pagi ada sarapan tersedia untukku di kamar. Kata yang mengantar itu dari Ustadzah Inayah.  

Saya minta Edo menjemput saya di pesantren. 

Sampai pukul 10 dia belum sampai.  Sampai kemudian dia menelepon ke ponsel saya. Dia menelepon dari Polrestabes.  Dia ditahan sejak malam kembali dari Kelong. 

”Di Simpangkapal ada razia. Saya distop, mereka periksa mobil. Terus katanya ada ganja di mobil kita. Saya tak tahu mereka temukan di bagian mana. Saya pastikan itu bukan punya saya.  Saya tak pernah pakai ganja, tak pernah berurusan dengan penjual ganja,” kata Edo.

”Oke, tunggu. Saya ke sana,” kata saya

Saya menelepon Bang Eel. Juga Bang Jon. Ferdy menelepon saya juga menanyakan soal itu. Dia juga serta-merta datang ke Polrestabes. 

Di ruang tamu Kasatnarkoba saya menemani Edo. Dia tak ditahan.  Cek urine-nya bersih. Tadi juga dijelaskan tak ada sidik Edo jari di bungkusan plastik ganja yang disita polisi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: