Tradisi Ngidak Gelamai di Bengkulu Selatan, Kue Lebaran Turun Temurun Masyarakat Semaku

Tradisi Ngidak Gelamai di Bengkulu Selatan, Kue Lebaran Turun Temurun Masyarakat Semaku

Tradisi Ngidak Gelamai di Bengkulu Selatan, Kue Lebaran Turun Temurun Masyarakat Semaku.--(dokumen/radarkaur.co.id)

BENGKULU SELATAN, RADARKAUR.CO.ID - Ngidak Gelamai ialah tradisi membuat kue lebaran wajib yang tidak pernah luntur di BENGKULU SELATAN.

Budaya Ngidak Gelamai merupakan tradisi turun-temurun masyarakat (Seluma Manna Kaur).

Ngidak Gelamai dalam bahasa masyarakat Bengkulu Selatan memiliki arti ‘mengaduk Gelamai’.

Bila dilihat dari kacamata budaya, Ngidak Gelamai memiliki filosopi kerja sama antar masyarakat untuk menghasilkan kue lebaran yang matang sempurna dengan resepnya yang khusus.

BACA JUGA:Wisata Kebun Anggur Eropa di Kaur Bengkulu, Rekomendasi Liburan Akhir Tahun! 

BACA JUGA:Sesosok Pria Ditemukan Tewas Dekat Stadion, Diduga Korban Begal

Ciri khas kerja sama dalam tradisi Ngidak Gelamai di Bengkulu Selatan bisa dilihat dari cara memasak Gelamai yang diaduk dalam waktu lama. 

Untuk menghasilkan Gelamai yang matang sempurna diperlukan 4 sampai 8 orang yang bertugas mengaduk adonan Gelamai.  

Ngidak Gelamai untuk menyambut lebaran bagi masyarakat Kaur, Manna dan Seluma tidak bisa dilewatkan.

Jika tidak memasak kue tradisional Gelamai seperti ada yang kurang untuk merayakan Lebaran bersama Keluarga besar.  

BACA JUGA:10 Fakta Donald Pandiangan di Google Doodle, Satu Set Panahan yang Merubah Hidup Robinhood Indonesia 

BACA JUGA:Puteri Indonesia Asal Kaur Hadir di Resepsi Pernikahan Kaesang dan Erina, Sempat Foto dengan Gubernur Bengkulu

Selain itu, Ngidak Gelamai memiliki arti rasa syukur karena telah dilimpahkan berkah hasil panen padi dan padi pulut (ketan) yang melimpah.

Biasanya sekitar 3 atau 4 bulan setelah masa panen padi sampai ke momen lebaran. Jadi, memasak Gelamai sangat perlu untuk mensyukuri rezeki yang berlimpah.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: