Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi

Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi

Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi--ilustrasi

“Apalagi, kalau jarak tanamnya diatur. Sebaliknya, bisa melindungi pohon kopi dari tetesan air hujan dan terik sinar matahari.” 

“Selain itu, buahnya juga bisa dimakan sendiri dan dijual. Hitung-hitung hasil panennya bisa menjadi tambahan, bahkan bisa menjadi tabungan,” katanya, sembari tangan kanannya memainkan pena plastik hitam di depan kakinya yang bersila.

Rindu Kebun, Relasi Romantis

Ia juga melanjutkan, “Sekarang ini, rasanya pengen setiap hari ke kebun.” 

“Biasanya, suami yang mengajak ke kebun. Kalau sekarang, saya yang mengajak suami. Kalau suami tidak mau ke kebun, saya tetap ke kebun.” 

Sembari tangannya masih trus memainkan pena, ia melanjutkan, “Kalau tidak ke kebun, kepala terasa sakit. Jauh berbeda bila ke kebun, bukan hanya kepala yang tidak merasa sakit, hati juga merasa senang.”

“Bukan hanya mengajak ke kebun, tapi juga mengajak suami mendiskusikan apa yang akan dikerjakan di kebun,” sambung Supartina. “Besok, bagaimana kalau kita mengerjakan ini atau mengerjakan itu, menanam ini atau itu, atau saya mau mengerjakan ini, silakan bapak mengerjakan itu.” 

“Tidak lagi sekadar ikut suami, tetapi sudah mendiskusikan rencana,” timpal Julian. “Jadi, pergi ke kebun bersama suami terasa berbeda dibandingkan sebelum-sebelumnya, termasuk saat bekerja di kebun, dan pulang dari kebun.” 

Sambil tersenyum-senyum, ia menambahkan, “Terasa lebih romantis.” Seketika saung itu kembali ramai dengan suara tawa. 

Biarlah Dianggap Bodoh, Yang Penting Bahagia

“Mungkin,” sambung Mercy, “banyak pihak menganggap langkah kita membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim dengan menghidupkan kembali cara-cara nenek moyang ini tidak “modern” atau “maju”.” 

“Bahkan, mungkin dianggap bertentangan oleh pemerintah (daerah).” 

“Kalaupun pemerintah (daerah) menganggap kita bodoh, tertinggal, dan terbelakang, biarlah,” timpal Supartina. 

“Yang penting, hasil kebun kita lebih memuaskan, kebun kita lebih sehat, rumah tangga kita lebih harmonis, dan kita lebih bahagia,” sambungnya, yang direspons dengan anggukan mantap perempuan petani kopi lainnya sambil saling memandang.

Bangga, Dari Nenek Moyang untuk Anak Cucu

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: