Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi
Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi--ilustrasi
“Hasil dari tanaman sela juga sangat membantu,” kata Supartina.
“Sekarang, sudah berani ngomong ke suami, ‘Pak, besok ajaklah orang, sekian orang, untuk kerja di kebun.’ Sebelumnya, mana berani ngomong seperti itu. Uang belanja saja menunggu dari suami.”
“Sebelumnya,” sambung Lena, “beli baju baru anak hanya saat Lebaran. Untuk membelinya pun terkadang harus cari pinjaman.”
“Kalau sekarang, kapan pun bisa beli baju baru untuk anak. Hasil panen cabai rawit beberapa kilogram saja sudah bisa,” katanya sembari tersenyum lebar.
Po’ong, Tighau, dan Ranti Berdatangan
“Cabai rawit di dekat lubang angin yang berisi mulsa organik untuk buat pupuk organik di kebun saya, suburnya bukan kepalang,” kata Mardalena. “Pohonnya tinggi, daunnya rimbun dan hijau mengkilap, dan buahnya lebat.”
Seraya meniru logat populer Jakarta, ia melanjutkan, “Suburnya kebangetan!” Seketika tawa pun pecah di saung itu.
Ketika tawa mulai mereda, Nurlela menambahkan, “Di sekitar lubang angin juga tumbuh po’ong (pakis). Sebelum-sebelumnya, sama sekali tidak pernah ada.”
“Hampir di sekitar semua lubang angin tumbuh po’ong,” timpal Heni. “Macam-macam pula jenisnya.”
“Di kebun saya juga banyak tumbuh macam-macam po’ong,” sambung Supartina. “Salah satunya po’ong ikan yang bisa dimakan. Rencananya saya mau ajak suami untuk memperbanyak.”
“Saya dan anak saya juga punya rencana yang mirip,” Nurlela melanjutkan. “Jika po’ong yang tumbuh itu tidak bisa dimakan, akan kami ganti dengan menanam po’ong yang bisa dimakan.”
“Mungkin karena tanah sudah lembap akibat air hujan yang tertampung di lubang angin terserap ke dalam tanah, makanya po’ong mulai tumbuh,” sambungnya. “Itu juga dampak setelah berhenti total menyemprot racun rumput.”
“Sejak berhenti menyemprot racun rumput, sekarang saya juga mulai sering ketemu tighau (jamur) yang tumbuh di batang pepohonan dan batang kopi yang mati,” kata Heni. “Sebelum-sebelumnya, tidak pernah ada.”
Sembari jari jemari tangan kanannya memukul-mukul lembut paha kaki kanannya, ia melanjutkan, “Ada tighau cecurut, tighau kukuran, tighau kuping, tighau mato kebau, tighau jelemak, tighau bungo kupi, dan lainnya. Selain untuk lauk di kebun, saya juga sudah mulai sering membawa tighau pulang.”
“Di tempat kami juga mulai tumbuh banyak tighau,” timpal Julian. “Selama ini kita selalu meracun rumput, jadi tighau tidak mungkin tumbuh. Setelah tidak meracun rumput lagi, tighau mulai mau tumbuh.”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
