Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi
Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi--ilustrasi
“Biasanya, pada bulan-bulan itu, setiap hari harus cari lokak kerja harian di kebun orang,” Lena menimpali sembari terus tertawa kecil.
Sembari mengangkat tangan kanannya, lalu menggerakan jari telunjuknya ke jilbab hitam berlis putih yang membalut kepalanya, ia melanjutkan, “Beban pikiran meningkat. Setiap hari mikir makan apa. Pagi mikir untuk sore, sore mikir untuk pagi.”
“Sekarang, sudah bisa menolak ajakan kerja harian di kebun orang,” tambahnya.
“Sekarang, setiap bulan ada hasil panen buah selang yang bisa kita peroleh,” sambung Nurlela. Sambil mengubah posisi duduknya dari bersila menjadi berselonjor, ia menambahkan, “Walau tidak banyak, tapi cukup untuk meringankan pikiran.”
“Sekarang sudah tidak perlu lagi cari kerja upahan di kebun orang,” kata Supartina pelan, sambil menggoyang-goyangkan lutut kanan yang didekap kedua tangannya.
“Cukup dari hasil kebun kopi kita sendiri saja.”
Tidak Lagi Makan Bunga Kopi
“Saya pernah punya pengalaman, baru sudah panen kopi, duitnya langsung habis karena harus membayar utang di sana dan di sini,” timpal Julian kembali tertawa kecil.
“Kalau kata orang, hasil panen habis di bawah batang.”
Sembari ikut tertawa, Heni menambahkan, “Bahkan, ketika bunga kopi baru muncul, terkadang juga sudah harus berutang untuk makan hari ke hari, yang dibayar setelah panen.”
“Ibarat kata, makan bunga kopi.”
“Sekarang sudah berbeda. Apalagi sudah tidak perlu lagi keluar uang atau berutang untuk beli racun rumput dan pupuk kimia,” tambahnya.
Sembari tangan kanannya mengurut-urut keningnya, ia melanjutkan, “Dalam setahun, biaya untuk beli racun rumput dan pupuk kimia itu berkisar tiga sampai empat juta rupiah.”
Tanaman Sela untuk Keberanian
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
