Jauh dari Harapan, Menu MBG Ini Dinilai Tak Pantas untuk Anak Sekolah
Jauh dari Harapan, Menu MBG Ini Dinilai Tak Pantas untuk Anak Sekolah--ilustrasi
JABAR, RADARKAUR.DISWAY.ID - Para orang tua siswa di Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) Provinsi Jawa Barat, memprotes paket kering Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anak-anak mereka pada Senin 23 Februari 2026.
Program yang semestinya menunjang asupan gizi peserta didik itu dinilai jauh dari harapan, terlebih karena dibagikan di bulan Ramadan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, komposisi MBG yang diterima siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdiri dari satu kap kecil ikan petek air tawar, 13 biji kurma dalam satu plastik, dua buah jeruk, serta tiga kemasan susu bubuk Dancow. Paket MBG Ramadan tersebut diketahui dibagikan untuk kebutuhan konsumsi selama tiga hari.
Orang tua siswa di SMPN 3 Padalarang, Agus, mengaku kecewa dengan isi paket tersebut. Ia menilai menu yang diberikan tidak mencerminkan standar gizi seimbang sebagaimana tujuan program.
BACA JUGA:Awal Maret Kades di Kabupaten Kaur Mulai Pencairan ADD dan Dana Desa
BACA JUGA:Apakah Orang Meninggal Sadar jika Dirinya Meninggal..??
“Kalau melihat komposisinya, ini jauh dari kata layak. Ikan cuma satu kap kecil, kurma 13 biji, dua jeruk, dan tiga susu bubuk. Itu pun susunya masih bentuk bubuk, bukan siap minum. Anak-anak butuh makanan yang benar-benar bergizi, apalagi sekarang lagi puasa,” ujar Agus saat ditemui, Rabu (25/2/2026).
Agus juga menyebutkan, berdasarkan informasi yang ia terima, makanan tersebut berasal dari SPPG di Perum Baloper, Padalarang. Ia mempertanyakan mekanisme pengawasan dan standar kualitas sebelum paket dibagikan kepada siswa.
“Katanya dari SPPG di Perum Baloper. Harusnya ada kontrol kualitas yang jelas. Jangan sampai program yang bagus ini malah terkesan asal jalan tanpa memperhatikan kelayakan,” katanya.
Menurutnya, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh agar program MBG tidak sekadar formalitas. Ia khawatir, jika dibiarkan, kepercayaan masyarakat terhadap program bantuan pendidikan akan menurun.
“Seharusnya pemerintah ikut mengawasi dalam penyaluran bantuan itu. Jangan sampai hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kepada anak saya dan anak lainnya,” imbuhnya.
BACA JUGA:Fadli Zon Promosikan Benteng Marlborough Hingga Rumah Kediaman Bung Karno ke Masyarakat Indonesia
BACA JUGA:Antisipasi Balap Liar dan Tawuran Selama Ramadan, Kapolres Kaur Pimpin Patroli Gabungan Skala Besar
Hal serupa disampaikan Billa (28), orang tua siswa di SDN Sukamaju Padalarang. Ia mengungkapkan anaknya menerima paket MBG dengan komposisi yang sama.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
