Ia menambahkan, program MBG seharusnya mempertimbangkan kebutuhan gizi harian anak, termasuk keseimbangan protein, karbohidrat, dan vitamin.
Menurutnya, hanya mengandalkan ikan dalam porsi kecil, buah, dan susu bubuk tanpa makanan pokok tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan energi siswa.
“Kalau memang tujuannya membantu dan meningkatkan gizi, harusnya ada nasi atau kentang atau sumber karbohidrat yang jelas, lauk yang memadai, dan sayur. Ini malah tidak ada makanan pokok sama sekali,” katanya.
“Makanan keringan atau cemilan boleh. Asal jelas proteinnya,” tegasnya.
Kritik para orang tua ini seharusnya menjadi pengingat para pelaksana SPPG, mengingat MBG digulirkan sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan konsentrasi belajar siswa. Namun di lapangan, pelaksanaan program dinilai belum maksimal dan kurang memperhatikan standar gizi seimbang.
Sejumlah orang tua berharap pemerintah daerah segera turun tangan melakukan evaluasi terhadap penyedia dan distribusi MBG di wilayah Padalarang. Mereka menegaskan, program yang menyangkut kebutuhan dasar anak tidak boleh dijalankan setengah hati.
“Kalau memang ini untuk anak-anak, tolong serius. Jangan sampai hanya sekadar menggugurkan kewajiban program, tapi manfaatnya tidak benar-benar dirasakan,” pungkas Billa. (Wit)