Kerajinan Anyaman Sepi Peminat, Terancam Punah

Kerajinan Anyaman Sepi Peminat, Terancam Punah

Seorang ibu-ibu warga Desa Ulak Bandung tengah membuat kerajinan anyaman berbahan bambu dan rotan.--

KAUR, RADARKAUR.CO.ID - Dengan harga beli mencapai Rp 400 ribu per-unit. Perabotan rumah tangga hasil kerajinan anyaman, sepi peminat.

Terlebih buah kerajinan tangan itu, saat ini harus bersaing dengan produksi pabrik berbahan plastik yang harganya jauh lebih murah. 

Darmila (58) warga Desa Ulak Bandung Kecamatan Muara Sahung, salah seorang pengrajin anyaman mengatakan, harga termurah dari hasil kerajinan tangannya Rp 50 ribu per-unit, untuk jenis bakul kecil.

BACA JUGA: Seru Kapolri, Hotman Paris Minta Propam Periksa Oknum Tolak Laporan ART

BACA JUGA: RKUHP Besok Disahkan: Arti Perkosaan Diperluas, Sodomi dan Oral Seks Dibui 12 Tahun, Kumpul Kebo 1 Tahun

Termahal bakul yang bisa digendong, atau dalam bahasa setempat disebut "bake". Harganya menembus Rp 400 ribu per-unit.

"Tergantung besar kecil ukuran serta bahan anyaman yang digunakan. Kalau yang berbahan bambu, rotan, ataupun bemban memang sudah segitu harganya," ujar Darmila, Senin (5/12).

Terpisah, Sekdes Ulak Bandung, Ujang Asdumarta mengatakan, bila melihat proses produksi.

Dimulai dari pencarian dan pengelolaan bahan anyaman.

Lalu dilanjutkan proses penganyaman, hingga finishing yang bisa memakan waktu hingga tiga pekan. 

BACA JUGA: 1000 Tabung Elpiji, Gubernur Bengkulu Salurkan di 10 Wilayah Termasuk Kaur

BACA JUGA: Gubernur Bengkulu Sampaikan Maaf, Kerusakan Infrastruktur Jalan Diperbaiki?

Dianggapnya wajar bila harga jual perabot rumah tangga hasil anyaman tradisional jauh lebih mahal dibanding perabot rumah tangga hasil produksi pabrik dengan bahan plastik.

Perbedaan harga dapat mencapai kisaran ratusan ribu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: